Monday, 28 January 2013

Mengcancel Do'a


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Pembaca yang berbahagia… kalau dipikir-pikir, rasanya tidak ada orang yang secara sengaja mengcancel do’anya. Mana mungkin orang yang sudah berdo’a kemudian membatalkan harapannya, harapan kepada Allah. Hal ini bisa berarti do’anya hanya untuk main-main saja. Tetapi bagaimana apabila perbuatan mengcancel do’a tetapi tidak menyadari??  Untuk lebih tau jawabanya.. silahkan baca artikel ini.

Artikel ini ditulis agar kita semata-mata selalu mengingat sabda nabi Muhammad SAW “Berdo’alah dengan penuh keyakinan, maka do’amu akan dikabulkan” dan dengan tambahan penguatan atas firman Allah “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya kuperkenankan bagimu” (QS. Al Mu’min:60). Kalau nabi saja memberi penguatan penguatan atas firman Allah yang sangat gamblang, pastinya karena nabi tahu Do’a umatnya masih menyisakan masalah. Masalah atas keyakinan yang berada di wilayah hati atau perasaan di dalam dada.
Do’a yang bulat adalah do’a dimana empat hal yang selaras dalam diri orang yang berdo’a. yaitu perasaan (hati), pikiran (otak), ucapan dan perbuatan. Saat isan mengucap do’a yang digerakkan oleh pikiran, maka yang perlu dirasakan adalah perasaan yang terlintas didalam dada. Karena boleh jadi lisan dan pikiran sejalan, namun perasaan yang paling dalam masih menyisakan persoalan. Persoalan apalagi kalau bukan pesimisme atas do’anya.
Pesimisme menyelinap kedalam hati karena terlalu dominannya rasional di kepala. Karena itu hati menjadi lalai dari keyakinan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas. Bahwa Allah dapat mewujudkan apapun sesuai kehendak-Nya.
Misalnya seseorang berdo’a agar segera memperoleh pekerjaan pengganti setelah di PHK. Benar orang ini berdo’a, namun jika tidak menyadari, boleh jadi orang ini terjebak dalam logikanya sendiri yang terbatas. Seperti munculnya lintasan dibenaknya “Saya sudah berumur, keterampilan tidak memadai, lapangan pekerjaan sulit, tidak punya relasi, apa mungkin mendapatkan pekerjaan pengganti dengan mudah?”.  Jika logika ini semakin dominan, maka bisa berujung pula pada menyelinapnya pesimisme dalam perasaan. Kalau yang demikian terjadi, maka orang ini sesungguhnya tidak menyadari bahwa dirinya sedang dalam proses mengcancel do’anya.
Allah dalam hadits Qudsi mengatakan bahwa “Aku bergantung pada persangkaan hambaku”. Orang ini tanpa disadari ‘setor’ persangkaan negatif kepada Allah SWT. Menyangka Allah bukan pemurah kepada dirinya dan tidak akan memudahkan keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan pengganti. Maka mana mungkin do’anya akan terwujud, sedangkan persangkaannya negatif kepada Allah SWT.
Ketika Allah memberi kemampuan untuk berdo’a, maka kewajiban manusia yaitu berdo’a dengan penuh perasaan dan pikiran. Sedangkan bagaimana harapan kita semua itu akan terwujud, pasrahkan saja kepada Allah. Bisa jadi Allah akan menghadirkan inspirasi dalam perasaan dan pikiran, langkah-langkah atau cara mewujudkanya. Bisa pula Allah akan menghadirkan pertolongan dengan menggerakkan hamba-hambanya yang lain. Atau dengan cara apapun bisa. Allah Maha Kuasa, serahkan semua kepada-Nya.
Pembaca yang berbahagia, do’a itu adalah karunia. Kalau orang tergerak hatinya untuk berdo’a, ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati untuk berdo’a adalah Allah. Yang menghadirkan inspirasi dan harapan dalam do’a kita juga Allah. Sehingga apapun do’a kita, tidak ada alasan untuk tidak yakin bahwa do’a kita akan dikabulkan.
Jika dalam do’a kita terbesit ingin tambahan penghasilan, butuh pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik, profit usaha yang lebih besar, anak yang baru lulus cepat mendapakan pekerjaan, atau apapun itu, sampaikanlah harapan itu dalam do’a kepada Allah SWT. Lalu satukan Perasaan (hati), Pikiran (otak), Ucapan, dan Perbuatan bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Pemurah.
Bayangkan masa kecil saat kita meminta kepada Ibu dan Ayah. Selalu permintaan kita dimudahkan oleh mereka, karena mereka menyanyangi anaknya. Maka ketahuilah, bahwa kasih sayang Allah kepada hambanya jauh melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya. Maka dari itu, marilah kita yakin 100 persen do’a kita akan dikabulkan oleh Allah. Dan kita jangan mengcancel do’a tersebut dengan perasaan, pikiran, ucapan, dan perbuatan kita sendiri.
Jika terbesit dalam benak kita sebagai pelajar  ingin mendapat kesempatan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri favorit, sampaikanlah harapan itu dalam do’a sepenuh perasaan dan pikiran. Setelah berdo’a jangan lupa untuk menjaga perasaan (hati), pikiran (otak), ucapan, dan perbuatan agar jangan sampai mengcancel do’a kita sendiri. Buang dan kubur dalam-dalam perasaan dan pikiran yang bisa mengcancel do’a seperti “Saya orang tidak mampu, saya tidak cerdas, saya tidak memiliki biaya, saya tidak berprestasi, saingan saya terlalu banyak, mana mungkin saya akan diterima kuliah di Perguruan Tinggi Negeri..??” Buang pikiran buruk seperti itu, karena tidak akan berguna malah akan membuat kita semakin pesimis dalam menjalani hidup ini.
Benar misalnya semua itu fakta. Tapi fakta tersebut tidak boleh kita jadikan pemicu untuk tidak optimis akan terkabulnya do’a kita. Jadi semua harapan itu kembali kepada diri kita. Bagaimana kita bisa memposisikan diri. Pesimisme tersebut justru harus kita ubah menjadi bumbu yang mempercepat terkabulnya do’a kita. Caranya sampaikan saja fakta itu kepada Allah kala berdo’a. Misalnya “Ya Allah.. sebentar lagi hamba akan keluar dari SMA, hambamu yang lemah ini dari keluarga tidak mampu. Hamba ingin sekali kuliah di Univeritas Airlangga. Hamba semakin galau, risau, resah, dan gelisah karena hamba tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah. Sedangkan engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, mudahkanlah hambamu ini untuk bisa kuliah di Universitas Airlangga.”
Tetapi dalam menyampaikan do’a kepada Allah, kita tidak dapat hanya bergantung dan pasrah kepada Allah, kita juga harus melakukan usaha untuk menggapai keinginan kita itu. Do’a kita tidak akan pernah dikabulkan oleh Allah apabila kita tidak melakukan tindakan. Seperti firman Allah "Man Jadda wa jadda ". Sehingga kita senantiasa harus melakukan sebuah tindakan untuk menggapai keinginan tersebut. Dan tindakan atau usaha itu sendiri akan kita dapat dari sebuah niat dan kesungguhan hati.
Saudaraku, Allah sangat dekat dengan kita. Lebih dekat dari urat nadi dileher kita. Allah menyuruh kita sebagai hambanya untuk berdo’a, dan Allah juga menjanjikan do’a kita akan dikabulkan. Oleh karena itu, kita akan sangat malu pada Allah kalau berdo’a masih menyisakan keraguan sekecil atom sekalipun. Iringi do’a kita dengan banyak bersedekah ikhlas karena Allah.
Semoga Allah senantiasa membimbing perasaan (hati), pikiran (otak), ucapan, dan perbuatan kita tidak termasuk tindakan yang mengcancel do’a tanpa kita sadari.Amin
  Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Load comments