Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Pembaca yang berbahagia… kalau dipikir-pikir, rasanya tidak ada
orang yang secara sengaja mengcancel do’anya. Mana mungkin orang yang sudah
berdo’a kemudian membatalkan harapannya, harapan kepada Allah. Hal ini bisa
berarti do’anya hanya untuk main-main saja. Tetapi bagaimana apabila perbuatan
mengcancel do’a tetapi tidak menyadari??
Untuk lebih tau jawabanya.. silahkan baca artikel ini.
Artikel ini ditulis agar kita semata-mata selalu mengingat sabda
nabi Muhammad SAW “Berdo’alah dengan
penuh keyakinan, maka do’amu akan dikabulkan” dan dengan tambahan penguatan
atas firman Allah “Berdo’alah kepada-Ku,
niscaya kuperkenankan bagimu” (QS. Al Mu’min:60). Kalau nabi saja memberi
penguatan penguatan atas firman Allah yang sangat gamblang, pastinya karena
nabi tahu Do’a umatnya masih menyisakan masalah. Masalah atas keyakinan yang
berada di wilayah hati atau perasaan di dalam dada.
Do’a yang bulat adalah do’a dimana empat hal yang selaras
dalam diri orang yang berdo’a. yaitu perasaan (hati), pikiran (otak), ucapan
dan perbuatan. Saat isan mengucap do’a yang digerakkan oleh pikiran, maka
yang perlu dirasakan adalah perasaan yang terlintas didalam dada. Karena boleh
jadi lisan dan pikiran sejalan, namun perasaan yang paling dalam masih
menyisakan persoalan. Persoalan apalagi kalau bukan pesimisme atas do’anya.
Pesimisme menyelinap kedalam hati karena terlalu dominannya
rasional di kepala. Karena itu hati menjadi lalai dari keyakinan bahwa
kekuasaan Allah tidak terbatas. Bahwa Allah dapat mewujudkan apapun sesuai
kehendak-Nya.
Misalnya seseorang berdo’a agar segera memperoleh pekerjaan
pengganti setelah di PHK. Benar orang ini berdo’a, namun jika tidak menyadari,
boleh jadi orang ini terjebak dalam logikanya sendiri yang terbatas. Seperti
munculnya lintasan dibenaknya “Saya sudah berumur, keterampilan tidak memadai, lapangan
pekerjaan sulit, tidak punya relasi, apa mungkin mendapatkan pekerjaan
pengganti dengan mudah?”. Jika logika
ini semakin dominan, maka bisa berujung pula pada menyelinapnya pesimisme dalam
perasaan. Kalau yang demikian terjadi, maka orang ini sesungguhnya tidak
menyadari bahwa dirinya sedang dalam proses mengcancel do’anya.
Allah dalam hadits Qudsi mengatakan bahwa “Aku bergantung pada persangkaan hambaku”.
Orang ini tanpa disadari ‘setor’ persangkaan negatif kepada Allah SWT.
Menyangka Allah bukan pemurah kepada dirinya dan tidak akan memudahkan
keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan pengganti. Maka mana mungkin do’anya
akan terwujud, sedangkan persangkaannya negatif kepada Allah SWT.
Ketika Allah memberi kemampuan untuk berdo’a, maka kewajiban
manusia yaitu berdo’a dengan penuh perasaan dan pikiran. Sedangkan bagaimana
harapan kita semua itu akan terwujud, pasrahkan saja kepada Allah. Bisa jadi
Allah akan menghadirkan inspirasi dalam perasaan dan pikiran, langkah-langkah
atau cara mewujudkanya. Bisa pula Allah akan menghadirkan pertolongan dengan
menggerakkan hamba-hambanya yang lain. Atau dengan cara apapun bisa. Allah Maha
Kuasa, serahkan semua kepada-Nya.
Pembaca yang berbahagia, do’a itu adalah karunia. Kalau orang
tergerak hatinya untuk berdo’a, ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati untuk
berdo’a adalah Allah. Yang menghadirkan inspirasi dan harapan dalam do’a kita
juga Allah. Sehingga apapun do’a kita, tidak ada alasan untuk tidak yakin bahwa
do’a kita akan dikabulkan.
Jika dalam do’a kita terbesit ingin tambahan penghasilan,
butuh pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik, profit usaha yang
lebih besar, anak yang baru lulus cepat mendapakan pekerjaan, atau apapun itu,
sampaikanlah harapan itu dalam do’a kepada Allah SWT. Lalu satukan Perasaan
(hati), Pikiran (otak), Ucapan, dan Perbuatan bahwa Allah Maha Kaya dan Maha
Pemurah.
Bayangkan masa kecil saat kita meminta kepada Ibu dan Ayah.
Selalu permintaan kita dimudahkan oleh mereka, karena mereka menyanyangi
anaknya. Maka ketahuilah, bahwa kasih sayang Allah kepada hambanya jauh
melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya. Maka dari itu, marilah kita
yakin 100 persen do’a kita akan dikabulkan oleh Allah. Dan kita jangan mengcancel
do’a tersebut dengan perasaan, pikiran, ucapan, dan perbuatan kita sendiri.
Jika terbesit dalam benak kita sebagai pelajar ingin mendapat kesempatan kuliah di Perguruan
Tinggi Negeri favorit, sampaikanlah harapan itu dalam do’a sepenuh perasaan dan
pikiran. Setelah berdo’a jangan lupa untuk menjaga perasaan (hati), pikiran
(otak), ucapan, dan perbuatan agar jangan sampai mengcancel do’a kita sendiri.
Buang dan kubur dalam-dalam perasaan dan pikiran yang bisa mengcancel do’a
seperti “Saya orang tidak mampu, saya tidak cerdas, saya tidak memiliki biaya,
saya tidak berprestasi, saingan saya terlalu banyak, mana mungkin saya akan
diterima kuliah di Perguruan Tinggi Negeri..??” Buang pikiran buruk seperti
itu, karena tidak akan berguna malah akan membuat kita semakin pesimis dalam
menjalani hidup ini.
Benar misalnya semua itu fakta. Tapi fakta tersebut tidak
boleh kita jadikan pemicu untuk tidak optimis akan terkabulnya do’a kita. Jadi
semua harapan itu kembali kepada diri kita. Bagaimana kita bisa memposisikan
diri. Pesimisme tersebut justru harus kita ubah menjadi bumbu yang mempercepat
terkabulnya do’a kita. Caranya sampaikan saja fakta itu kepada Allah kala
berdo’a. Misalnya “Ya Allah.. sebentar lagi hamba akan keluar dari SMA, hambamu
yang lemah ini dari keluarga tidak mampu. Hamba ingin sekali kuliah di
Univeritas Airlangga. Hamba semakin galau, risau, resah, dan gelisah karena
hamba tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah. Sedangkan engkau adalah
Maha Pemberi, Maha Pemurah, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka dengan
rahmat dan kasih sayang-Mu, mudahkanlah hambamu ini untuk bisa kuliah di
Universitas Airlangga.”
Tetapi dalam menyampaikan do’a kepada Allah, kita tidak dapat
hanya bergantung dan pasrah kepada Allah, kita juga harus melakukan usaha untuk
menggapai keinginan kita itu. Do’a kita tidak akan pernah dikabulkan oleh Allah
apabila kita tidak melakukan tindakan. Seperti firman Allah "Man Jadda wa jadda ". Sehingga kita senantiasa harus melakukan sebuah tindakan untuk menggapai
keinginan tersebut. Dan tindakan atau usaha itu sendiri akan kita dapat dari
sebuah niat dan kesungguhan hati.
Saudaraku, Allah sangat dekat dengan kita. Lebih dekat dari
urat nadi dileher kita. Allah menyuruh kita sebagai hambanya untuk berdo’a, dan
Allah juga menjanjikan do’a kita akan dikabulkan. Oleh karena itu, kita akan
sangat malu pada Allah kalau berdo’a masih menyisakan keraguan sekecil atom
sekalipun. Iringi do’a kita dengan banyak bersedekah ikhlas karena Allah.
Semoga Allah senantiasa membimbing perasaan (hati), pikiran
(otak), ucapan, dan perbuatan kita tidak termasuk tindakan yang mengcancel do’a
tanpa kita sadari.Amin
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh