Assalamu’alaikum.
Kali ini saya ingin berbagi satu hal tentang komunikasi publik.
Banyak orang yang ingin dapat
berkomunikasi dengan baik dan pesan yang disampaikan komunikasi tersebut.
Sehingga banyak sekali orang yang masih minder dan ragu untuk menyampaikannya.
Inilah yang terjadi saat ini di tengah-tengah masyarakat. Banyak orang cerdas,
banyak orang yang memiliki ide gemilang. Namun ide tersebut tak dapat
dituangkan atau disampaikan karena ketidakmampuan dalam berkomunikasi,
khususnya komunikasi di hadapan publik. Keraguan itu muncul akibat
ketidakpercayaan diri, menganggap bahwa penampilannya akan jelek di mata orang
lain, takut orang lain kecewa, dan sebagainya.
Baiklah, sebelum saya berbagi pengalaman dalam belajar berkomunikasi
dan menjadi public speaker, saya akan mengulas apa itu komunikasi.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, komunikasi merupakan hubungan
timbal-balik antar sesama manusia. Dengan komunikasi inilah dapat tercipta
sebuah perhubungan atau pengabaran dari suatu informasi untuk disampaikan orang
lain. Setiap manusia adalah memiliki pikiran juga mulut. Melalui alat ucap ini
manusia dapat menuangkan dan menyampaikan ide melalui bahasa. Bahasa yang baik
dan dapat dimengerti akan mempengaruhi orang lain untuk memahami maksud dari
informasi yang kita sampaikan.
Dalam komunikasi, pastinya dibutuhkan sebuah kepercayaan diri yang
baik. Apabila kita memiliki kepercayaan diri, kita akan tahu apa kelemahan dan
kekuatan kita. Sehingga potensi kita untuk terus berkembang semakin besar.
Kepercayaan diri muncul setelah kita mengenal diri kita. Memiliki kemampuan
mengenali diri sendiri itu penting, dengan mengenal diri sendiri kita akan
mudah untuk kenal dengan orang lain. Serta dapat menyesuaikan diri dan
menunjukan sikap yang pantas dihadapan orang lain yang pastinya memiliki
kepribadian dan behavior yang berbeda. Dalam Islam telah jelas
disampaikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an :
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.”
(Ali Imran: 139)
Jadi manusia sesungguhnya lebih baik bila mengenal diri dan
memiliki kepercayaan diri. Namun tidaklah sebuah kepercayaan diri yang
berlebihan. Karena Islam juga melarang sesuatu yang berlebihan.
Berbicara soal Public Speaking, banyak orang yang belum
yakin akan dapat menjadi Public Speaker. Namun semua manusia punya potensi, dan
potensi itulah yang harus digali sehingga dapat menjadi sebuah bakat. Berikut tips
dari saya untuk menjadi Public Speaker :
1.
Niat
Semua haruslah dimulai dengan niat. Apa tujuan
kita menjadi public speaker? Apakah untuk menjadi orang yang komunikatif,
melatih kecerdasan, ingin dikenal, atau yang lainnya? Semua niat itu benar
selama untuk kebaikan dan bermanffat bagi kita dan orang sekitar. So build
up your spesific intention right now!
2.
Berfikir “Kalau
dia bisa, aku pasti bisa!”
Semua manusia pada hakekatnya sama. Tak ada
yang beda. Seorang Choky Sitohang misalnya, ia berbakat, komunikatif,
dan sebagainya. Kita dan Choky adalah sama. Choky juga manusia seperti kita,
makan nasi, pernah salah, dan pasti punya rasa deg-degan. Tiada yang membedakan
kita dengan Public Speaker handal seperti itu, hanya seberapa besar-lah
usaha kita untuk bisa seperti dia.
3.
Speak
more, please!
Ya, lebih banyak bicara untuk membiasakan diri
berbicara. Cobalah untuk berbicara di depan cermin, berbicara selama 3-5 menit
tanpa jeda tanpa kata e/anu/em (saya Cuma bila e.. tapi saya mau e...jadi
e... sepertinya e..., dan seterusnya). Walau orang berkata
seperti orang gangguan jiwa, namun gangguan jiwa itulah yang akan mengantarkan
kita pada kewarasan yang sesungguhnya. Yaitu waras apabila apa yang kita mau
telah terwujud.
4.
Cari partner yang
suka berbicara
Mencari teman yang suka bicara atau cerewet
sangat membantu kecakapan kita saat berkomunikasi. Saat berbicara dengan orang cerewet itulah
secara tidak langsung kita tidak akan mau hanya jadi pendengar, namun juga
berbicara. Dengan begitu kita bisa mengimbangi teman kita tadi. Jadi komunikasi
menjadi lancar. Bukan hanya satu berbicara dan satu hanya mendengar. Mendengar juga
bagus untuk tahu gaya orang lain saat bicara, mengapa mereka berbicara seperti
itu, dan bagaimana mereka bisa berbicara seperti itu.
5.
Banyaklah belajar
Belajar apapun dapat mempengaruhi kemampuan
komunikasi kita. Contohnya membaca novel. Setelah membaca novel cobalah untuk
menceritakan kembali isi novel tersebut dengan teman-teman lain, khususnya
teman yang belum akrab atau orang asing. Dengan seperti itu kita akan terbiasa
berhadapan dengan audien yang belum kita kenal sebelumnya. Begitu pula saat
selesai menonton film, pahami isi film tersebut dan ceritakan kembali kepada
orang lain. Jangan pernah malu, katakan bahwa kita sedang belajar (Jadi mohon
dimaklumi perkataan saya, jangan kaget ya, nanti koreksi ya, dan sebagainya).
Di sisi lain, menulis juga ampuh untuk melatih
berbicara. Saat menulis kita akan merangkai kata menjadi kalimat, kalimat
menjadi paragraf, paragraf menjadi teks utuh. Semakin terbiasa kita menulis,
semakin banyak kosa kata yang kita produksi. Dengan begitu, akan semakin mudah
kita mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita. Karena perbendaharaan kata
maupun pilihan diksi sudah mumpuni. Mulailah menulis diary, cerita di
jejaring sosial, cerpen, motto hidup, maupun tulisan lainnya.
6.
Disiplin dan Istiqomah
Menjadi Public Speaker itu harus
disiplin. Disiplin dalam berbagai bidang.
Kita tidak boleh hanya nyaman pada posisi kita saat ini. carilah sensasi
yang membuat kita sangat sibuk untuk melatih kedisiplinan. Disiplin diperlukan
saat kita berbicara. Kapan kita harus bicara kapan harus berhenti. Bahasa apa yang
pantas dengan orangtua dan bahasa yang pantas untuk teman. Seberapa lama harus
berbicara di depan kaca. Kata-kata apa yang harus dihindari. Dengan latihan
itulah, kita akan terbiasa. Ya, perlu pembiasaan atau istiqomah. Latihan
hanya sekali dua kali tidaklah cukup. Belajarlah kapan[pun, dimanapun, dengan
siapapun, dalam situasi apapun. You know, time is money, right? So manage
your time properly & smartly.
7.
Berdoa
Terus berusaha, perbanyak berlatih, mintalah
kritik dan saran orang lain, jangan takut salah. Saat kita berbakat tanpa do’a
itu nonsense. Allah juga tidak akan memberikan kesempatan untuk kita
menampilkan bakat kita tersebut. Jadi selalu di ingat. Sukses itu rumusnya
USAHA+DO’A. Beserta beberapa formula yang sesuai dengan passion itu. Semoga
dengan usaha yang baik itulah Allah akan menunjukan kemudahan untuk kita dalam
belajar.
Baiklah, demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga tulisan yang
sederhana ini bermanfaat. Spasiba Balshoi