Thursday, 30 April 2015

Belajar Menjadi Public Speaker



Assalamu’alaikum.
Kali ini saya ingin berbagi satu hal tentang komunikasi publik. Banyak  orang yang ingin dapat berkomunikasi dengan baik dan pesan yang disampaikan komunikasi tersebut. Sehingga banyak sekali orang yang masih minder dan ragu untuk menyampaikannya. Inilah yang terjadi saat ini di tengah-tengah masyarakat. Banyak orang cerdas, banyak orang yang memiliki ide gemilang. Namun ide tersebut tak dapat dituangkan atau disampaikan karena ketidakmampuan dalam berkomunikasi, khususnya komunikasi di hadapan publik. Keraguan itu muncul akibat ketidakpercayaan diri, menganggap bahwa penampilannya akan jelek di mata orang lain, takut orang lain kecewa, dan sebagainya.
Baiklah, sebelum saya berbagi pengalaman dalam belajar berkomunikasi dan menjadi public speaker, saya akan mengulas apa itu komunikasi.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, komunikasi merupakan hubungan timbal-balik antar sesama manusia. Dengan komunikasi inilah dapat tercipta sebuah perhubungan atau pengabaran dari suatu informasi untuk disampaikan orang lain. Setiap manusia adalah memiliki pikiran juga mulut. Melalui alat ucap ini manusia dapat menuangkan dan menyampaikan ide melalui bahasa. Bahasa yang baik dan dapat dimengerti akan mempengaruhi orang lain untuk memahami maksud dari informasi yang kita sampaikan.
Dalam komunikasi, pastinya dibutuhkan sebuah kepercayaan diri yang baik. Apabila kita memiliki kepercayaan diri, kita akan tahu apa kelemahan dan kekuatan kita. Sehingga potensi kita untuk terus berkembang semakin besar. Kepercayaan diri muncul setelah kita mengenal diri kita. Memiliki kemampuan mengenali diri sendiri itu penting, dengan mengenal diri sendiri kita akan mudah untuk kenal dengan orang lain. Serta dapat menyesuaikan diri dan menunjukan sikap yang pantas dihadapan orang lain yang pastinya memiliki kepribadian dan behavior yang berbeda. Dalam Islam telah jelas disampaikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an :
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 139)

Jadi manusia sesungguhnya lebih baik bila mengenal diri dan memiliki kepercayaan diri. Namun tidaklah sebuah kepercayaan diri yang berlebihan. Karena Islam juga melarang sesuatu yang berlebihan.
Berbicara soal Public Speaking, banyak orang yang belum yakin akan dapat menjadi Public Speaker. Namun semua manusia punya potensi, dan potensi itulah yang harus digali sehingga dapat menjadi sebuah bakat. Berikut tips dari saya untuk menjadi Public Speaker :
1.      Niat
Semua haruslah dimulai dengan niat. Apa tujuan kita menjadi public speaker? Apakah untuk menjadi orang yang komunikatif, melatih kecerdasan, ingin dikenal, atau yang lainnya? Semua niat itu benar selama untuk kebaikan dan bermanffat bagi kita dan orang sekitar. So build up your spesific intention right now!
2.      Berfikir “Kalau dia bisa, aku pasti bisa!”
Semua manusia pada hakekatnya sama. Tak ada yang beda. Seorang Choky Sitohang misalnya, ia berbakat, komunikatif, dan sebagainya. Kita dan Choky adalah sama. Choky juga manusia seperti kita, makan nasi, pernah salah, dan pasti punya rasa deg-degan. Tiada yang membedakan kita dengan Public Speaker handal seperti itu, hanya seberapa besar-lah usaha kita untuk bisa seperti dia.
3.      Speak more, please!
Ya, lebih banyak bicara untuk membiasakan diri berbicara. Cobalah untuk berbicara di depan cermin, berbicara selama 3-5 menit tanpa jeda tanpa kata e/anu/em (saya Cuma bila e.. tapi saya mau e...jadi e... sepertinya e..., dan seterusnya). Walau orang berkata seperti orang gangguan jiwa, namun gangguan jiwa itulah yang akan mengantarkan kita pada kewarasan yang sesungguhnya. Yaitu waras apabila apa yang kita mau telah terwujud.
4.      Cari partner yang suka berbicara
Mencari teman yang suka bicara atau cerewet sangat membantu kecakapan kita saat berkomunikasi.  Saat berbicara dengan orang cerewet itulah secara tidak langsung kita tidak akan mau hanya jadi pendengar, namun juga berbicara. Dengan begitu kita bisa mengimbangi teman kita tadi. Jadi komunikasi menjadi lancar. Bukan hanya satu berbicara dan satu hanya mendengar. Mendengar juga bagus untuk tahu gaya orang lain saat bicara, mengapa mereka berbicara seperti itu, dan bagaimana mereka bisa berbicara seperti itu.
5.      Banyaklah belajar
Belajar apapun dapat mempengaruhi kemampuan komunikasi kita. Contohnya membaca novel. Setelah membaca novel cobalah untuk menceritakan kembali isi novel tersebut dengan teman-teman lain, khususnya teman yang belum akrab atau orang asing. Dengan seperti itu kita akan terbiasa berhadapan dengan audien yang belum kita kenal sebelumnya. Begitu pula saat selesai menonton film, pahami isi film tersebut dan ceritakan kembali kepada orang lain. Jangan pernah malu, katakan bahwa kita sedang belajar (Jadi mohon dimaklumi perkataan saya, jangan kaget ya, nanti koreksi ya, dan sebagainya).
Di sisi lain, menulis juga ampuh untuk melatih berbicara. Saat menulis kita akan merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi teks utuh. Semakin terbiasa kita menulis, semakin banyak kosa kata yang kita produksi. Dengan begitu, akan semakin mudah kita mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita. Karena perbendaharaan kata maupun pilihan diksi sudah mumpuni. Mulailah menulis diary, cerita di jejaring sosial, cerpen, motto hidup, maupun tulisan lainnya.
6.      Disiplin dan Istiqomah
Menjadi Public Speaker itu harus disiplin. Disiplin dalam berbagai bidang.  Kita tidak boleh hanya nyaman pada posisi kita saat ini. carilah sensasi yang membuat kita sangat sibuk untuk melatih kedisiplinan. Disiplin diperlukan saat kita berbicara. Kapan kita harus bicara kapan harus berhenti. Bahasa apa yang pantas dengan orangtua dan bahasa yang pantas untuk teman. Seberapa lama harus berbicara di depan kaca. Kata-kata apa yang harus dihindari. Dengan latihan itulah, kita akan terbiasa. Ya, perlu pembiasaan atau istiqomah. Latihan hanya sekali dua kali tidaklah cukup. Belajarlah kapan[pun, dimanapun, dengan siapapun, dalam situasi apapun. You know, time is money, right? So manage your time properly & smartly.
7.      Berdoa
Terus berusaha, perbanyak berlatih, mintalah kritik dan saran orang lain, jangan takut salah. Saat kita berbakat tanpa do’a itu nonsense. Allah juga tidak akan memberikan kesempatan untuk kita menampilkan bakat kita tersebut. Jadi selalu di ingat. Sukses itu rumusnya USAHA+DO’A. Beserta beberapa formula yang sesuai dengan passion itu. Semoga dengan usaha yang baik itulah Allah akan menunjukan kemudahan untuk kita dalam belajar.

Baiklah, demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga tulisan yang sederhana ini bermanfaat. Spasiba Balshoi

Load comments