Dalam kehidupan ini kita
selalu menemukan hal yang kita inginkan maupun hal yang tidak kita inginkan. Setiap
orang juga memiliki faktor keberuntungan . Faktor keberuntungan tersebutlah
yang terkadang menjadi sebuah pertanyaan. Apakah benar orang pintar kalah
dengan orang untung? Ataukah orang untung kalah dengan orang pintar? Apa bedanya
orang pintar dan orang untung? Apabila untung itu lebih utama, mengapa kita
harus pintar? Lalu apa manfaatnya kita menjadi orang pintar jika orang
beruntung selalu ada? Keadaan inilah yang perlu kita mengerti bersama.
Setiap manusia memiliki
faktor keberuntungan masing-masing. Dalam beberapa kasus, kalimat “orang pintar
kalah dengan orang rugi” itu benar. Seperti misalnya saat kita mengikuti jalan
sehat dan mengikuti undian berhadiah mobil mewah. Kasus undian ini jelas
merupakan gambaran bahwa orang pintar kalah, dan orang untung-lah yang
mendapatkan rezeki. Karena dalam undian seperti ini tidaklah diperlukan sebuah
proses berpikir, proses belajar, dan tindakan untuk menjadi pemenang dalam
undian ini, melainkan hanyalah berdo’a. Masih banyak lagi contoh lainnya yang
kita rasakan di kehidupan sehari-hari.
Namun di lain sisi, orang
pintar juga pasti lebih unggul dalam beberapa aspek. Aspek usahalah yang
menjadi barometer dalam sebuah pencapaian ini. sehingga hasil yang didapatkan
tidak berasal dari sesuatu yang tidak beralasan, namun berasal dari sesuatu
yang dipelajari, ditekuni, dan disyukuri. Sehingga datanglah keberhasilan itu. Seperti
contoh saat kita mengikuti Ujian Sekolah, Ujian nasional, Ujian Skripsi, atau
ujian lainnya. Bagaimana kita bisa sukses dan berhasil dengan nilai ujian yang
memuaskan apabila kita tidak belajar? Apakah akan kita dapatkan nilai baik
tanpa adanya ketekunan? Tanpa adanya do’a? Tanpa adanya istiqomah? Apakah
unsur luck atau keberuntungan dapat kita andalkan dalam kasus seperti
ini? tentu saja tidak. Besar kecilnya kesuksesan yang kita raih sepenuhnya
besar kecilnya usaha yang telah kita lakukan. Tidak ada porsi yang lebih besar
maupun lebih kecil. Percayalah, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya dan sempurna. Kita adalah sama. Tergantung bagaimana kita
memanfaatkan pemberian ini dengan optimal.
Manusia diciptakan oleh
Allah dalam bentuk yang berbeda sama satu sama lain. Namun setiap manusia
memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, itu Pasti! Tidak akan ada orang
yang sempurna. Setiap manusia juga mendapat jatah rezeki masing-masing secara
adil seadil-adilnya. Seperti firman Allah SWT pada surat As-Syuro ayat 27 :
وَلَوْ
بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ
بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada
hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah
menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha
Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa:
27)
Manusia diciptakan dalam
bentuk yang sama, memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, Sejak manusia
dilahirkan ia memiliki otak yang sama, tak ada bedanya satu sama lain. Tapi mengapa
ada orang yang kurang cerdas dan orang cerdas? Hal ini tergantung pada materi
yang di masukan pada otak kita. Sejauh apa kita memanfaatkan otak dalam
berfikir. Semakin banyak kita berfikir dan dilanjutkan dengan tindakan, maka
akan semakin terasah lah otak kita. Sehingga sebenarnya tidak ada orang pandai
dan orang bodoh, hanya ada orang rajin dan orang malas. Orang rajinlah yang
mampu mengasah kemampuan otak dengan baik. Dan orang malas selalu memanjakan otaknya
untuk tidak berfikir sehingga tidak akan berkembang.
Demikian pesan yang dapat saya bagikan, semoga tulisan yang sederhana ini bermanfaat untuk diri saya
sendiri maupun orang lain. Syukron