Wednesday, 29 April 2015

Orang Pintar atau Orang Untung?



Dalam kehidupan ini kita selalu menemukan hal yang kita inginkan maupun hal yang tidak kita inginkan. Setiap orang juga memiliki faktor keberuntungan . Faktor keberuntungan tersebutlah yang terkadang menjadi sebuah pertanyaan. Apakah benar orang pintar kalah dengan orang untung? Ataukah orang untung kalah dengan orang pintar? Apa bedanya orang pintar dan orang untung? Apabila untung itu lebih utama, mengapa kita harus pintar? Lalu apa manfaatnya kita menjadi orang pintar jika orang beruntung selalu ada? Keadaan inilah yang perlu kita mengerti bersama.
Setiap manusia memiliki faktor keberuntungan masing-masing. Dalam beberapa kasus, kalimat “orang pintar kalah dengan orang rugi” itu benar. Seperti misalnya saat kita mengikuti jalan sehat dan mengikuti undian berhadiah mobil mewah. Kasus undian ini jelas merupakan gambaran bahwa orang pintar kalah, dan orang untung-lah yang mendapatkan rezeki. Karena dalam undian seperti ini tidaklah diperlukan sebuah proses berpikir, proses belajar, dan tindakan untuk menjadi pemenang dalam undian ini, melainkan hanyalah berdo’a. Masih banyak lagi contoh lainnya yang kita rasakan di kehidupan sehari-hari.
Namun di lain sisi, orang pintar juga pasti lebih unggul dalam beberapa aspek. Aspek usahalah yang menjadi barometer dalam sebuah pencapaian ini. sehingga hasil yang didapatkan tidak berasal dari sesuatu yang tidak beralasan, namun berasal dari sesuatu yang dipelajari, ditekuni, dan disyukuri. Sehingga datanglah keberhasilan itu. Seperti contoh saat kita mengikuti Ujian Sekolah, Ujian nasional, Ujian Skripsi, atau ujian lainnya. Bagaimana kita bisa sukses dan berhasil dengan nilai ujian yang memuaskan apabila kita tidak belajar? Apakah akan kita dapatkan nilai baik tanpa adanya ketekunan? Tanpa adanya do’a? Tanpa adanya istiqomah? Apakah unsur luck atau keberuntungan dapat kita andalkan dalam kasus seperti ini? tentu saja tidak. Besar kecilnya kesuksesan yang kita raih sepenuhnya besar kecilnya usaha yang telah kita lakukan. Tidak ada porsi yang lebih besar maupun lebih kecil. Percayalah, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan sempurna. Kita adalah sama. Tergantung bagaimana kita memanfaatkan pemberian ini dengan optimal.
Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang berbeda sama satu sama lain. Namun setiap manusia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, itu Pasti! Tidak akan ada orang yang sempurna. Setiap manusia juga mendapat jatah rezeki masing-masing secara adil seadil-adilnya. Seperti firman Allah SWT pada surat As-Syuro ayat 27 :
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Manusia diciptakan dalam bentuk yang sama, memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, Sejak manusia dilahirkan ia memiliki otak yang sama, tak ada bedanya satu sama lain. Tapi mengapa ada orang yang kurang cerdas dan orang cerdas? Hal ini tergantung pada materi yang di masukan pada otak kita. Sejauh apa kita memanfaatkan otak dalam berfikir. Semakin banyak kita berfikir dan dilanjutkan dengan tindakan, maka akan semakin terasah lah otak kita. Sehingga sebenarnya tidak ada orang pandai dan orang bodoh, hanya ada orang rajin dan orang malas. Orang rajinlah yang mampu mengasah kemampuan otak dengan baik. Dan orang malas selalu memanjakan otaknya untuk tidak berfikir sehingga tidak akan berkembang.
Demikian pesan yang dapat saya bagikan, semoga tulisan yang sederhana ini bermanfaat untuk diri saya sendiri maupun orang lain. Syukron

Load comments