#InspirasiRamadhan
Alhamdulillahirobbil
‘alamiin, saya masih mendapat kesepatan oleh Allah untuk dapat menulis. Menulis
sebuah pengalaman yang bersifat empiris. Dan pengalaman tersebut telah
memotivasi saya untuk menulis secara lebih kritis. Pada saat ini kita sedang
menikmati indahnya bulan Ramadhan, bulan yang sangat istimewa bagi umat muslim.
Nama lain dari Ramadhan adalah bulan puasa. Ya, karena pada bulan inilah
seluruh muslim di dunia yang fana ini menjalankan salah satu rukun islam yang
keempat selain Syahadat, Sholat, dan juga Zakat.
Pada bulan ini
benar-benar menjadi bulan yang benuh berkah, penuh rezeki, penuh maghfiroh
(ampunan). Bulan yang selalu dinantikan oleh muslim seluruh dunia. Bulan yang
membawa kedamaian satu sama lain. Siapapun yang menjalankan ibadah di bulan ini
pastilah mendapat impression yang indah, yang benar-benar memberikan sebuah
pengalaman dan berkah untuk kehidupan ini. bulan Ramadhan juga merupakan bulan
turunnya Al-Qur’an, kitab suci umat muslim, yang menjadi pedoman hidup bagi
manusia. Al-Qur’an lah yang menjadi petunjuk hidup bagaikan peta untuk kita
melangkah agar tidak tersesat. Hidup ini penuh dengan hal-hal yang menyesatkan
umat. Karena hidup ini hanyalah seentara, aka kita sebagi manusia perlulah
untuk sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya hanyalah di akhirat kelak, setelah
nyawa kita diambil oleh Allah SWT. Betapa sucinya bulan Ramadhan ini sampai
Allah memberikan mu’jizat berupa Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW dengan
diturunkannya surat pertama yaitu Al-A’raf.
Allah dengan jelas menerangkan
tentang bulan Ramadhan ini dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang mengenai bulan
Ramadhan yaitu pada Surat Al-Baqoroh 185:
“Bulan Ramadhan adalah
(bulan) yang di dalanya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan
yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka
berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa),
maka wajib menggantikannya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghindari
kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah
SWT atas petunjuk-Nya kepadamu, agar kamu bersyukur.”
Begitu jelas Allah telah
berfirman bahwa adalah orang-orang beruntung yang dapat merasakan dan mendapat
kesempatan untuk beribadah di bulan suci ini. Allah juga akan memudahkan segala
urusan kita selama menjalani aktivitas yang kita lakukan. Allah akan memberi
pahala berkali lipat terhadap ibadah yang kita lakukan di bulan ini. dan yang
lebih spesial lagi yaitu karena adanya malam lailatul qadar, yakni malam
diantara seribu bulan. malam ini telah dijelaskan dengan jelas oleh Allah dalam
surat Al-Qadar. Dalam surat Al-Qadar juga dijelaskan bahwa Allah memberintahkan
Jibril untuk memberi rahmat kepada siapa saja yang menjalanakan ibadah pada
malam lailatur qadar sampai fajar. Subhanallah, semua ini adalah bonus dari
Allah kepada kita yang hidup di dunia ini.
Seperti yang kita selalu
lihat disekitar kita, banyak orang-orang yang bergembira pada bulan ini.
Walaupun saat puasa kita tidak makan dan minum bahkan ada yang tidak kuat lagi
bekerja, namun rezeki selalu allah limpahkan kepada kita semua. Sebuha
pemandangan yang tidak biasa pun bisa kita rasakan perbedaannya dibandingkan
dengan bulan-bulan lainnya. Seperti adanya ta’jil di setiap masjid, dimana kita
bisa menikmati makanan dan minuman secara gratis yang tekah disediakan oleh
ta’mir masjid. Ada juga pasar dadakan yang menjual aneka makanan sebagia
hidangan berbuka puasa maupun sahur. Hal ini dapat menjadi kesempatan bagi
masyarakat untuk mengais rezeki. Kita juga dapat mendengar tongklek
(musik kentongan yang digunakan membangunkan masyarakat utnuk sahur), ada juga
perayaan malam turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) yang kerap disyukuri dengan
ngaji bersama di dalam masjid.
Di bulan yang penuh
nikmat ini pula, kita belajar untuk berbagi terhadap saudara-saudara kita yang
kurang mampu, yaitu melalui Zakat. Dengan zakat ini menjadi parameter kita
untuk dapat mensucikan diri dan menjadi wujud syukur kita akan kekayaan yang
kita miliki selama ini, yakni dapat dirasakan oleh semua. Karena setiap harta
kekayaan di dunia ini hanyalah titipan semata. Kita tidak dapat mengolah semua itu
apabila kita meninggal kelak. Rasa syukur itu tidak hanya diucapkan melalui
ucapan terimakasih kepada Allah. Namun melalui berbagi rezeki, hal ini dapat
membuat orang lain juga senang. Inilah sebuah ukhuwah dan kolaborasi yang indah
antara Hablu min Allah wa hablu min Naas (Hubungan antara manusia dengan Allah, dan hubungan
antar manusia).
Di setiap kesempatan,
selalu kita dengarkan ayat-ayat Qur’an yang di kumandangkan di masjid-masjid.
Acara televisi yang awalnya hanya memamerkan nikmatnya kehidupan dunia berubah
menjadi lebih tawadhu’ dan mengajak masyarakat untuk beramal karimah.
Semua aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan prostitusi ditutup,
pakaian-pakaian yang tidak pantas muli ditarik dari peredaran dan pasar
dikuasai oleh pakaian muslim/muslimah. Masjid juga tampak indah dipenuhi oleh
jama’ah yang melaksanakan sholat wajib maupun sholat sunnah tarawih, sholat
witir, maupun sholat sunnah lainnya. Subhanallah, Inilah nikmat Allah
yang di limpahkan untuk kita semua.
Salah satu kisah menarik
yang saya dapatkan dan menjadi inspirasi bagi saya adalah seorang pemuda yang
gigih bekerja untuk orangtuanya. Pemuda 17 tahun yang tinggal di salah satu
desa di Kabupaten Tuban ini bekerja keras menjadi tukang bangunan dan melakukan
pekerjaan yang cukup berat sambil menahan rasa lapar dan haus demi ibadah
puasa. Betapa tidak, ia harus mengaduk semen, mengangkat besi maupun batu,
membantu pekerjaan tukang yang lain demi membangun sebuah rumah. Ia mampu
bertahan puasa ditengah-tengah rekan kerjanya yang hapir semuanya sudah
berumahtangga dan dewasa.
Keadaan ekonomi yang
sulit membuatnya harus tabah menjadi seorang pemuda yang hanya menerima ijazah
Sekolah Dasar (SD) saja. Saya yakin ia memiliki keinginanuntuk menjadi sama
seperti anak-anak lain yang asik dan bahagia melakukan kegiatan belajar
mengajar di sekolah, namun kedua orangtuanya benar-benar pesimis dan tidak
ingin anaknya sekolah lebih tinggi. Mungkin inilah salah satu potret pemikiran
yang masih primitif dari penduduk desa. Di setiap kesempatan, saya perhatikan
pemuda ini sangatlah tegar. Sebagai seseorang yang dekat dengan saya, ia selalu
menunjukan ekspresi tabah bahkan terkadang acuh dengan keadaannya saat ini. Ia
selalu berusaha untuk membuat hari-harinya tanpa beban pikiran dan melakukan
yang terbaik untuk masa depannya dan untuk membahagiakan keluarganya.
Meski tidak dapat
merasakan dunia pendidikan secara penuh, namun pemuda ini sangatlah gigih dalam
bekerja. Ia pernah bercerita bahwa ia harus berubah, tak mau lagi menjadi orang
miskin. Pekerjaan kedua orangtuanya sebagai petani tidaklah cukup untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. Orangtuanya masih selalu berhutang
kesana kemari demi sesuap nasi. Pemuda yang tumbuh di lingkungan desa ini
berprinsip bahwa suatu saat ia harus mampu membuktikan bahwa meski ia tidak
pintar, ia tidak bekerja dengan pikiran, namun ia akan sukses melalui
tenaganya. Tidak pernah terlihat wajah sedih dari keadaan ini, justru rasa iri
nya melihat pemuda-pemuda seumurannya yang bernasib lebih baik darinya
membuatnya lebih semangat untuk bekerja.
Dengan semanagt tersebut,
pemuda ini terus menerus bekerja. Ia tidak dapat bekerja di tempat yang jauh
karena ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Keberadaannya sangat
penting untuk membantu orangtuanya. Pada bulan Ramadhan seperti ini, ia tetap
rajin bekerja, rajin beribadah, selalu pergi ke masjid. Di usianya yang
seharusnya sedang belajar di sekolah, ia mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan
yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Puasa tidak pernah menjadi penghalang
baginya untuk tetap aktif demi mendapatkan rezeki.
Dengan bekerja sebagai
kulia bangunan di bulan puasa ini, ia bersyukur karena komisi atau
pendapatannya lebih banyak dibanding bulan-bulan biasa. Saat ramadhan, ia mampu
memperoleh lima ratus ribu dalam seminggu (senin-sabtu). Dibanding hari
biasanya hanyalah sekitar dua ratus atau tiga ratus ribuan. Dengan uang itulah
ia dapat memenuhi kebutuhan kedua orangtuanya juga kebutuhan pribadinya. Inilah
salah satu berkah Ramadhan yang ia rasakan. Meski lelah dan pastinya berat
untuk menjalani pekerjaan seperti ini, namun Allah Maha mengetahui, Allah Maha
Adil. Setiap hambanya yang bersungguh-sungguh untuk bekerja keras, maka ia akan
mendapat hasil sesuai dengan hasil kerja kerasnya tersebut. Pemuda ini sangat bersyukur
akan semua pekerjaan yang ia lakukan. Apapun itu asalkan halal.
Dialah salah satu orang
yang menginspirasi saya untuk tetap bekerja keras. Apapun mimpi itu pasti akan
kita dapatkan. Bulan Ramadhan ini memberikan banyak inspirasi yang dapat kita
teladani. Dengan puasa bukan berarti kita lemah, namun puasa dapat menjadi
parameter bagi kita untuk tetap bangkit
meski lemah. Untuk tetap bersyukur meski kurang, untuk tetap bahagia meski
memiliki masalah. Ramadhan menjadi bulan penuh inspirasi bagi orang-orang yang
ingin berubah, bagi orang-orang yang ingin mendapat hidayah. Oleh sebab itu,
mari kita jalani ibadah terbaik di bulan terbaik ini untuk menggapai ridho
Allah SWT.
Betapa ruginya apabila
kita tidak memanfaatkan kesempatan dapat melalui bulan ini dengan amal
sebaik-baiknya. Saya menulis ini bukan berarti saya jauh lebih baik, namun
memotivasi diri itu penting. Lebih lagi dapat memotivasi orang lain. Bulan
Ramadhan merupakan berkah yang tiada terhitung nikamtnya bagi kita. Di bulan
inilah kita dapat melakukan introspeksi diri dan meminta ampunan atas segala
dosa yang pernah kita lakukan.
Semoga kita semua akan
menjadi seseorang yang senantiasa berjuang untuk selalu memperbaiki diri,
menjadi sosok yang lebih baik, khususnya di bulan ramadhan ini. semoga tulisan
saederhana ini bermanfaat. Terimakasih