Saturday, 31 October 2015

Langen Tayub Tuban Untuk Indonesia

Langen Tayub merupakan kesenian tradisional yang telah ada sejak turun temurun. Sumber sejarah mengatakan, Langen Tayub awalnya hanya ada dalam lingkungan keraton Jawa. Pada saat itu, kesenian ini bertujuan untuk menyambut raja-raja maupun tamu penting dari berbagai kerajaan. Langen tayub ditampilkan dengan sebuah tarian lemah gemulai yang dibawakan oleh para penari dengan diiringi gending slendro. Eksistensi kesenian ini mampu memikat masyarakat pada saat itu. Keberadaan langen tayub pun semakin dekat dengan masyarakat hingga akhirnya menjadi salah satu kesenian yang sering ada pada masyarakat. Kesenian ini mulai menyebar dan telah melalui proses kehidupan sosial di beberapa daerah Jawa, khususnya di Kabupaten Tuban.
Tuban memiliki berbagai kesenian serta kebudayaan yang luar biasa. Dan salahsatunya adalah Langen Tayub. Di beberapa daerah lain seperti Bojonegoro, Blora, Malang, maupun Lamongan, kesenian ini masih menjadi kontroversi masyarakat. Tayub dikenal sebagai kesenian yang identik dengan prostitusi dan minuman keras. Selain itu dikenal karena sinden yang kerap mendapat sawer dari penonton. Hal ini menyebabkan beberapa ahli menyatakan bahwa langen tayub haram atas dasar agama. Sehingga keberadaannya diragukan dan pada akhirnya banyak masyarakan ragu kemudian enggan untuk melestarikannya.
Namun hal itu tidaklah terjadi di Kabupaten Tuban. Eksistensi Langen Tayub di Bumi Wali ini semakin meningkat. Banyak masyarakat yang menggemari kesenian ini. Alasannya karena gerakan tari yang sederhana, isi tembang yang menceritakan kehidupan masyarakat, serta selalu ada di tengah-tengah masyarakat sebagai sebuah hiburan yang menarik. Kesenian ini bukan menjadi sebuah hiburan yang mahal yang hanya tampil di acara pemerintahan, namun menjadi hiburan warga Tuban pada berbagai hajatan. Seperti pernikahan, khitanan, mitoni, bersih desa, dan sebagainya.
Langen Tayub di Kabupaten Tuban dikenal dengan sebutan “Sindir”. Seni pertunjukan ini dibawakan oleh sinden dikenal dengan sebutan Waranggono. Pertunjukan diiringi dengan perlengkapan gamelan jawa. Selain itu, juga dipandu oleh sutradara yang mengatur agar pertunjukan kondusif yang dikenal sebagai Pramugari.
 Istilah Sindir ini muncul karena banyak dari tembang-tembang (lagu) yang disampaikan dalam pertunjukan kesenian ini mengandung sebuah kritikan untuk menyindir pemerintah. Hal ini merupakan salah satu nilai unik dari Langen tayun Tuban. Apabila di daerah lain, protes dan kritik dilakukan dalam bentuk demo, warga Bumi Ronggolawe ini melakukan sindiran dalam kemasan yang penuh seni. Pastinya dibutuhkan kreativitas dan kecerdasan untuk mentransformasi sebuah kritik menjadi tembang atau gending. Lirik yang digunakan pun juga sederhana serta sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh warga Tuban. Itulah sebabnya langen tayub diterima dengan baik oleh masyarakat.
Langen Tayub Tuban juga digunakan dalam syukuran panen di beberapa daerah. Seperti di Kecamatan Jatirogo, Kecamatan Bancar, dan Kecamatan Tambakboyo. Sampai saat ini masih ada beberapa desa maupun kecamatan yang melakukann syukuran panen, sedekah laut, resik sendang (pembersihan sumber mata air desa), maupun bersih desa dengan menampilkan pertunjukan langen Tayub. Konon, langen tayub dipercaya dapat membawa berkah agar rakyat semakin makmur, panen melimpah, terhindar dari bencana, dan kepercayaan lainnya.
Namun seiring perkembembangan zaman, pemuka agama di Tuban melakukan upaya agar tidak menjadikan kesempatan ini sebagai ritual yang menyesatkan. Upaya para ahli agama tersebut yakni dengan merubah pola pikir masyarakat untuk menjadikan langen tayub sebagai salah satu kesenian yang perlu dikembangkan sebagai warisan kebudayaan dan seni, bukan sebagai ritual yang syirik (menyekutukan Tuhan). Inilah salah satu wujud kearifan masyarakat Tuban yang mampu menyeimbangkan antara agama dan kesenian daerah. Masyarakat Tuban memiliki prinsip bahwa kesenian akan tetap ada dan dijaga, namun tidak merusak nilai-nilai religi demi mempertahankan julukan Kabupaten Tuban sebagai Bumi Wali.
Nilai spesial lain dari Langen Tayub Tuban ialah pada gending atau tembang yang dinyanyikan oleh para sinden. Langen tayub memiliki tembang religi yang mengandung pesan moral. Beberapa tembang tersebut merupakan hasil karya dari Sunan Bonang, salah satu wali yang dimakamkan di Kabupaten Tuban. Tembang tersebut seperti Lir-ilir, Tombo Ati, dan beberapa tembang lain yang mengandung ajakan untuk taat beribadah pada Tuhan dan berbuat baik terhadap sesama. Hal menarik lainnya adalah gending atau tembang yang digunakan dapat mengikuti perkembangan musik saat ini. Misalnya lagu dangdut, yang saat ini menjadi populer. Langen Tayub Tuban mampu mengarasemen ulang lagu-lagu dangdut tersebut menjadi sebuah tembang untuk pergelaran namun tetap tidak meninggalkan unsur musik khas Jawa. Bahkan musik tersebut menjadi lebih spesial karena diiringi dengan gamelan Jawa. Bukan hanya itu, Dengan demikian, keberadaan kesenian ini dapat mengikuti perkembangan jaman namun tidak meninggalkan pakem-pakem dasar langen tayub. Selain itu, pertunjukan tersebut tidak membosankan, sehingga masyarakat akan berupaya menjaga dan melestarikan kesenian ini.
Langen tayub juga mampu menarik atensi masyarakat dari berbagai kalangan. Sebagai contoh bagi pedagang, mereka akan mendapat keuntungan dari pertunjukan langen tayub. Masih banyak orang yang selalu datang untuk melihat pagelaran sindir. Hal ini dikarenakan tidak semua kalangan masyarakat dapat nanggap atau mengundang sindir sebagai hiburan pada hajatan masyarakat. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat Tuban yang menganggap bahwa kesenian ini merupakan hiburan untuk masyarakat kalangan menengah atau menengah keatas. Sehingga saat langen tayub diundang dalam sebuah hajatan, akan selalu ada penonton maupun tamu yang hadir untuk menyaksikan. Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh pedagang untuk menjajakan dagangannya. Banyak pedagang yang mengaku bahwa mereka mendapat keuntungan lebih saat berjualan dalam pagelaran langen tayub dibanding dengan hiburan yang lainnya. Sehingga kesenian ini dapat membawa rezeki untuk masyarakat, terutama bagi pedagang.
Tuban juga memiliki batik khas yang dinamakan Batik Gedog. Batik ini selalu dipakai dalam berbagai aktivitas masyarakat Tuban. Seperti dalam lingkungan kantor, sekolah, dan beberapa instansi yang mewajibkan memakai baju batik Gedog pada hari-hari tertentu. Tak luput pula pada langen tayub. Setiap pergelaran langen tayub selalu menggunakan batik Gedog Tuban. Hal ini bukan karena tidak sengaja. Dengan memakai batik gedog sebagai busana, pertunjukan sindir juga dapat mempromosikan batik Gedog Tuban sebagai salah satu warisan budaya Kabupaten Tuban. Selain itu, dapat memotivasi pengrajin batik untuk dapat memproduksi motif batik Tuban yang khas dan berkualitas.
Keberadaan langen tayub sangat penting bagi Kabupaten Tuban. Secara tidak langsung, nama Tuban menjadi semakin dikenal salah satunya melalui langen tayub. Saat ini banyak kesenian tradisional di Indonesia mulai punah akibat adanya intervensi dari kebudayaan luar. Hal ini juga merupakan tantangan menghadapi globalisasi. Namun, kesenian-kesenian ini khususnya langen tayub tetap menjadi kesenian yang digemari masyarakat. Ini semua karena usaha, kreativitas, serta inovasi dari seniman yang handal. Semua upaya dilakukan untuk mempertahankan budaya adiluhung Bumi Ronggolawe ini.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda Tuban sepantasnya mengenal lebih jauh apa saja nilai istimewa dari kota kelahiran kita ini. dengan demikian, kita akan menjadi seseorang yang memiliki pemgetahuan tentang tanah kelahiran kita. Dengan demikian, kita dapat mempromosikan secara langsung maupun tidak langsung semua warisan budaya daerah kita, khususnya langen tayub yang masih diminati. Semakin banyak yang mengenal Tuban, maka semakin banyak wisatawan datang ke Kabupaten Tuban. Sehingga potensi budaya maupun pariwisata kita dikenal oleh banyak orang dan akan mengantarkan Kabupaten Tuban lebih sejahtera.

Load comments