(Esai kali ini merupakan pengalaman magang di JTV Malang ya sobat)
Penulisan skrip di televisi memiliki beragam karakteristik,
menyesuaikan dengan jenis program yang akan ditulis. Sebagai contoh, penulisan
skrip berita harus mengunakan bahasa formal namun padat dan dapat dipahami
berbagai kalangan dengan memperhatikan unsur 5W+1H (What, who, where, when,
why, dan how), sedangkan untuk skrip iklan, menggunakan bahasa menarik,
singkat, padat dan mampu mempengaruhi pemirsa. Selain contoh tersebut, aspek
yang harus dipersiapkan dalam menulis skrip berbeda satu sama lain; tergantung
pada jenis program. Skrip yang ditulis akan digunakan sebagai panduan dalam
proses perekaman suara yang disebut dengan voice over (VO).
Dalam esai ini, penulis mengulas teknik penulisan skrip yang
digunakan untuk VO pada iklan dan berita features televisi yang memiliki
karakteristik yang berbeda. Skrip iklan, dalam media televisi, berperan penting
untuk bisa menciptakan iklan yang menarik konsumen. Di sisi lain, berita features
atau berita kisah dalam media televisi, juga menjelaskan rangkaian suatu
peristiwa dengan informasi yang lebih mendalam. Data yang digunakan dalam esai
ini yaitu merupakan hasil Praktik Kerja Industri (PKL) di PT. Batu Jannah
Televisi atau JTV Malang selama tiga bulan.
Esai ini juga diharapkan menjadi rujukan dalam pengetahuan tentang
jurnalistik televisi pada proses perkuliahan profesi jurnalistik di Jurusan Sastra Inggris Fakultas
Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menulis
Skrip Iklan Televisi
Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk
memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk
atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik
untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan. Iklan
menjadi sebuah seni dari persuasi dan dapat didefinisikan sebagai desain
komunikasi yang dibiayai untuk memberi informasi dan atau membujuk.
Dari pengertian diatas, pada dasarnya iklan merupakan sarana komunikasi
yang digunakan komunikator dalam hal ini perusahaan atau produsen untuk
menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik, khususnya
pelanggannya melalui suatu media massa. Selain itu, semua iklan dibuat dengan
tujuan yang sama yaitu untuk memberi informasi dan membujuk para konsumen untuk
mencoba atau mengikuti apa yang ada di iklan tersebut, dapat berupa aktivitas
mengkonsumsi produk dan jasa yang ditawarkan. Iklan memiliki peran signifikan
yaitu iklan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang untuk suatu
produk atau sebagai pemicu penjualan-penjualan yang cepat (Kasmanto, 2011).
Disadari atau tidak, iklan dapat berpengaruh tetapi juga dapat
berlalu begitu cepat. Iklan sangat unik karena iklan dapat mencapai tujuan
meskipun disampaikan dengan panjang lebar dan terkadang membingungkan. Iklan
televisi mengambil peran penting dalam beberapa hal (“Menulis
Naskah Iklan” n.d.) yang meliputi; (1) Membangun dan mengembangkan citra positif bagi suatu perusahaan dan
produk yang dihasilkan, melalui proses sosialisasi yang terencana dan tertata
dengan baik, (2) membentuk publik opini yang positif terhadap perusahaan atau produk
tersebut, (3) mengembangkan kepercayaan masyarakat terhadap produk konsumsi dan
perusahaan yang memproduksinya, (4) menjalin
komunikasi secara efektif dan efisien dengan masyarakat luas, sehingga dapat
terbentuk pemahaman dan pengertian yang sama terhadap suatu produk atau jasa
yang ditawarkan pada masyarakat oleh perusahaan tersebut.
Televisi, dengan menggunakan dua elemen kekuatan sekaligus yaitu
audio dan visual menjadikan televisi sebagai media promosi yang sangat efektif,
progresif, dan menjanjikan. Dengan tayangan iklan, acara pada televisi tidak
membosankan serta monoton. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kreativitas
serta inovasi-inovasi terbaru dalam pembuatan iklan. Meskipun saat ini iklan
telah banyak digunakan pada sosial media, media televisi tetap memberikan ruang
istimewa terhadap kesuksesan sebuah iklan. Iklan televisi.
Terdapat berbagai jenis durasi yang tersedia dalam pembuatan iklan
di televisi yaitu durasi 15 detik, 30 detik atau 60 detik. Dengan durasi
tayangan yang singkat tersebut, iklan diharapkan mampu membujuk pemirsa
televisi. Semakin lama durasi sebuah iklan, maka semakin banyak informasi yang
disampaikan serta semakin banyak konten atau isi dari skrip maupun gambar.
Selain itu, lama durasi sebuah tayangan iklan di televisi juga akan
mempengaruhi biaya penayangan iklan. Di JTV Malang, durasi
iklan yang paling banyak digunakan yaitu iklan 30 detik dan iklan 60 detik.
Durasi yang digunakan tergantung permintaan dari klien serta menyesuaikan
dengan konten yang terdapat pada iklan tersebut.
Kekuatan media massa televisi dibandingkan dengan media massa
lainnya yaitu pertama, televisi mampu menjangkau masyarakat yang sangat luas. Kelebihan
ini menimbulkan efisiensi biaya untuk menjangkau setiap orang. Banyak
pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untuk menyampaikan
pesan-pesan komersialnya. Kedua, iklan di televisi juga dirancang dengan kreativitas yang
dapat dieksplorasi dan dioptimalkan dengan mengkombinasikan gerak, keindahan, suara,
musik, drama, warna, humor, maupun ketegangan (Kasmanto, 2011). Ketiga, iklan di televisi juga memberikan pengaruh yang kuat dikarenakan kebanyakan pemirsa melewatkan waktunya di depan
televisi yang merupakan sarana hiburan, sumber berita, sarana pendidikan, dll.
Format
Iklan Televisi
Dalam menulis skrip iklan, seorang penulis skrip harus memiliki
rancangan yang jelas dalam memposisikan setiap adegan video atau gambar dengan
VO yang menjadi pengisi suara. Rancangan
untuk iklan di media ini, disamping memuat pesan iklan yang verbal untuk
diperdengarkan, juga memuat visual (gambar) untuk diperlihatkan kepada pemirsa.
Oleh karena itu, rancangan iklan televisi, memuat:
1. 1. Skrip yang terdiri dari dua kolom.
Dalam penulisan
skrip iklan secara umum, penulis skrip menggunakan dua kolom, yaitu kolom kanan
dan kolom kiri. Satu kolom sebelah kiri dibuat untuk melukiskan rentetan adegan
dengan detail yang ada pada video. Sedangkan kolom kiri digunakan untuk menjelaskan
suara apa saja yang harus terdengar pada saat visual ditampilkan serta memberi
keterangan maupun judul.
Dalam
praktiknya, JTV Malang menggunakan teori yang sama dalam penggunaan kolom.
Bedanya, skrip iklan yang biasa ditulis oleh JTV Malang tidak selalu
menggunakan detail dari detik dan menit dari video yang akan diedit. Hal ini
dikarenakan tidak semua iklan merupakan hasil shooting atau pengambilan gambar
oleh tim cameramen JTV Malang, melainkan juga didapat dari klien yang secara
langsung memberikan file video atau bahkan memberikan file iklan yang sudah
siap ditayangkan. Dengan kondisi tersebut, penulis skrip diharapkan mampu
menyesuaikan dengan permintaan klien maupun konten iklan yang akan ditayangkan.
2. 2. Gambar
Gambar yang
ditampilkan produk yang ditawarkan, gambar orang, kartun, maupun adegan lain
sesuai dengan jalannya cerita yang tertera dalam skrip menyesuaikan dengan rancangan. Rancangan iklan
televisi yang memuat script dan gambar inilah yang disebut
dengan storyboard. Story
board ini merupakan panduan bagi film director atau
sutradara pada saat shooting dilaksanakan. Gambar-gambar dalam storyboard menggambarkan
lajur visual dalam script. Sedangkan teks (yang dalam storyboard biasanya
ditulis di bawah atau disamping gambar) melukiskan kolom atau lajur audio/sound dalam skrip (Nugroho, 2011). Menulis skrip sebaiknya
jangan terlalu rinci dalam hal teknik pengambilan gambar, agar tidak membatasi
kebebasan sutradara atau kameraman dalam melakukan pengambilan gambar.
Gambar-gambar yang ada pada storyboard hanyalah key
frames (gambar utama dari serangkaian adegan)
Memang
idealnya, menurut Nugroho, seorang penulis naskah iklan atau copywriter iklan
televisi mampu mengenali atau mempelajari bagaimana membuat film. Selain itu,
penulis skrip juga seharusnya mengetahui teknik dasar menggunakan kamera
(termasuk istilah-istilahnya) agar mampu meningkatkan kreativitas dalam
menciptakan film iklan. Pengetahuan ini diperlukan agar nantinya
ketika storyboard itu diproduksi, penulis skrip dapat mengerti
penjelasan dari sutradara dan biasa berkomunikasi dengan kameraman di lapangan.
Bahkan sampai hasil shooting itu diedit, penulis skrip mampu
berdiskusi dengan editor film. Sayangnya, tidak semua melakukan upaya tersebut
dikarenakan adanya kendala teknis, termasuk JTV Malang. Biasanya, pengambilan
gambar atau proses shooting video disutradarai langsung oleh kameramen yang
melakukan survei sebelum pengambilan video. Hanya saja, iklan yang rata-rata
ditayangkan pada JTV Malang merupakan iklan bisnis lokal di area Malang, iklan
profil perusahaan, layanan masyarakat, tempat wisata, kedai makanan dan minuman,
lembaga pendidikan, dan bahkan produk kreativitas lokal, dan lain sebagainya.
Adapun penyiarannya adalah di JTV Malang yang meilputi Kota Malang, Kota Batu,
dan Kabupaten Malang. Dengan demikian,
detail serta kesempurnaan dari setiap adegan maupun gambar dari suatu iklan
tidak terlalu diperhatikan. Selain itu, keterbatasan tim kreatif serta
alat-alat yang mendukung seperti kamera, story board, lighting set, maupun
perangkat lainnya mempengaruhi hasil gambar pada iklan yang ditayangkan.
Gambar yang diambil
dalam pembuatan iklan di JTV Malang menggunakan empat sumber; melakukan
shooting atau pengambilan gambar secara langsung ke lokasi, mendapatkan berkas
video mentah yang belum diedit dari klien langsung, video yang diperoleh lewat
gabungan beberapa video di internet dan kemudian diedit, serta sumber iklan
yang sudah jadi dan siap untuk ditayangkan. Dalam proses pengambilan gambar
secara langsung di lokasi, kameramen JTV Malang juga menjadi sutradara dari
pembuatan iklan. Kameramen kemudian akan menginstruksikan kepada penulis skrip
untuk menulis skrip VO tentang gambar di detik maupun menit yang telah
dirancang oleh kameramen. Gambar yang sudah direkam dan diterima kemudian akan
dibuatkan naskah VO yang akan dilanjutkan untuk disunting atau editing oleh
seorang editor. Kemudian, editor akan menyesuaikan durasi video yang akan di
tayangkan, efek atau animasi yang dibutuhkan, penempatan VO pada video serta
beberapa hal terkait video sebelum siap untuk ditayangkan.
Teknik
Penulisan Skrip Iklan
Pada umumnya, skrip dalam
dunia pertelevisian ditulis dengan font Courier ukuran 12. Hal ini dimaksudkan
agar proses pembacaan dalam voice over lebih mudah serta mempermudah
editor dalam memperkirakan panjang naskah yang ditulis. Hanya saja, saat ini
format seperti diatas hanya digunakan pada produksi tertentu saja seperti skrip
film, reality show, dst. Untuk keperluan VO, beberapa perusahaan televisi atau
radio sekalipun memiliki standar masing-masing dalam menggunakan font yang
digunakan dalam proses penulisan skrip. Berdasarkan buku panduan penulisan
skrip internasional, skrip yang ditulis harus mengunakan bahasa yang lugas dan
mampu menarik pemirsa. Selain itu, tenses yang digunakan apabila menggunakan
bahasa Inggris dalam penulisan krip iklan yaitu menggunakan present tense agar
ucapan yang akan direkam tidak membosankan.
Selama proses penulisan skrip di JTV Malang, font yang digunakan
adalah Arial Narrow berukuran 11 dengan format tulisan uppercase atau
menggunakan huruf kapital. Alasannya, karena font jenis ini cukup padat dan
bila ditulis dengan huruf capital maka akan cukup mudah untuk dibaca oleh
narator. Untuk penulisan skrip iklan, diharapkan tulisan dapat dengan mudah
dibaca termasuk tanda pemisah seperti kapan harus koma ataupun titik. Dengan
demikian, proses VO akan berjalan dengan lebih mudah. Bukan hanya itu, bagi
beberapa copywriter yang lebih detail, maka dalam skrip iklan tersebut
akan diberi keterangan tambahan tentang ekspresi yang harus disampaikan, jenis
suara, tinggi rendahnya suara, panjang pendek maupun kecepatan pelafalan saat
melakukan proses VO. Tentu saja, hal ini bertujuan untuk menghasilkan karya
iklan yang memuaskan dan mampu menarik pemirsa untuk membeli produk yang
diiklankan tersebut.
Untuk mempermudah proses pembacaan naskah, penggunaan formatting
juga diizinkan dalam proes penulisan skrip iklan. Seperti misalnya dalam
penulisan skrip ang harus mencantumkan nama tokoh tertentu, maka nama yang
ditulis lebih baik dipertebal (bold) atau garis bawah (underline) untuk
menghindari kesalahan penyebutan nama atau jabatan.
Gaya
Bahasa Iklan Televisi
·
Eksploratif : naskah iklan menggali sedalam mungkin keunggulan
produk, dengan kata-kata akurat dan tidak terlalu berlebihan, sehingga mampu
meyakinkan publik akan keunggulan dan manfaat produk tersebut bagi mereka. Contoh
dari bahasa yang eksploratif dalam penulisan iklan yaitu: HANYA
DENGAN LIMA DUA PULUH RIBU RUPIAH/ ANDA BISA MENIKMATI WATERBOOM/ BOM BOM CAR/ DAN FLYING FOX YANG
PASTI SERU!
· Denotatif: kata-kata yang
digunakan sedapat mungkin tidak barmakna ganda (ambigue) sehingga pesannya
jelas dan tegas. Contohnya yaitu: SAHABAT AIR
MENAWARKAN PELATIHAN OLAH RAGA DAN WISATA YANG MENYENANGKAN/ EDUKATIF/ SERTA
DITUNJANG DENGAN LOKASI YANG MASIH ASRI//
· Naratif: menguraikan
produk dalam bentuk cerita dengan pilihan kata dan kalimat (gaya bahasa) semenarik mungkin. Contohnya yaitu: BERBAGAI WAHANA YANG NYAMAN/ INDAH/ DAN ALAMI/ AKAN
MEMANJAKAN LIBURAN ANDA//
· Imajinatif: pilihan kata
mengandung majinasi dan ”membuai” dengan tetap mengedepankan kebenaran fakta
produk dan tidak mengandung kebohongan. Contohnya yaitu: NIKMATI HARI-HARI PENUH WARNA DI KOTA WISATA
BATU/ BERSAMA SAHABAT AIR//
· Argumentatif: mempengaruhi
audiens secara jelas dan nyata dengan argumentasi yang dapat
dipertanggungjawabkan. NIKMATI FRIED CHICKEN SUPER RENYAH YANG HIGIENIS DAN
HALAL/ MULAI PROSES PEMOTONGAN/ PENGOLAHAN/ HINGGA PENYAJIAN//
· Informatif: menginformasikan
secara detail tentang produk. Sejumlah data yang mneunjang disampaikan
komunikatif dan menghindari news style, meski
hakikatnya memang berisi informasi. OBJEK WISATA KECE INI
TERLETAK DI AREA PEGUNUNGAN BATU YANG SEJUK DAN ASRI LHO//
· Persuasif: membujuk
audiens agar segera menggunakan produk yang diperkenalkan atau ditawarkan. Contohnya yaitu: DAPATKAN JUGA DISKON 50-70% DI BULAN DESEMBER!
Etika
Dalam proses penulisan skrip iklan, copywriter
juga harus memiliki etika agar mampu menghasilkan tulisan efektif untuk
penjualan produk yang diiklankan. Penulisan
naskah iklan tidak boleh berisi dusta atau membohongi masyarakat, tidak mengandung unsure sara, tidak
menimbulkan fitnah, serta tidak
melanggar kode etik periklanan dan undang-undang perlindungan konsumen. Dalam hal ini, menjelek-jelekkan produk lain juga termasuk
pelanggaran kode etik periklanan. Meski beberapa iklan kerap terlihat melakukan
tindakan menjelek-jelekkan produk atau iklan lain, namun iklan tersebut tidak
secara eksplisit mengekspos nama dari produk lain. Dengan demikian, pengetahuan
copywriter, kreativitas, serta etika atau norma yang secara umum berlaku
di masyarakat harus selalu diperhatikan.
Kekuatan Dan Kelemahan Menulis Skrip Iklan di Media
Televisi
Kekuatan iklan di media televisi meliputi:
1.
Televisi mempunyai pengaruh dan dampak komunikasi yang kuat karena
mengandalkan audio, visual, dan gerak. Bagi khalayak sasaran, iklan televisi
mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi pemirsa. Dengan
demikian, bahasa yang digunakan harus lebih menarik sehingga menjadi sebuah
tantangan untuk bisa menulis skrip iklan di televisi.
2.
Bahasa yang digunakan dalam menulis skrip iklan di
televisi cukup singkat sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif
singkat. Bahasa yang digunakan juga sebisa mungkin merupakan bahasa keseharian
masyarakat agar lebih mudah dipahami sehingga proses penulisan juga, dalam
beberapa konteks, dapat dikatakan lebih mudah.
3.
Menulis skrip iklan akan membawa dampak yang sangat signifikan bila
skrip yang ditulis memiliki kekuatan penjualan yang mampu menarik minat pemirsa
melalui bujukan yang disampaikan dari skrip yang telah ditulis oleh copywriter.
Dengan kata lain, seseorang yang sudah ahli
menjadi copywriter iklan akan mndapatkan keuntungan besar dari
kesuksesan sebuah iklan.
Bukan hanya memiliki keunggulan, menulis
skrip iklan juga memiliki beberapa tantangan yang dapat dijumpai dan mungkin
bisa menimbulkan masalah. Tantangan menulis skrip iklan di televisi
diantaranya:
1.
Tuntutan yang sangat tinggi sesuai keinginan klien.
Iklan membutuhkan biaya yang relatif besar untuk
memproduksi dan menyiarkan iklan komersial. Besarnya biaya ini dihitung dari
pembayaran artis, production house, dan membeli waktu media televisi yang
sangat besar. Dengan
kondisi tersebut, seorang copywriter harus memiliki kemampuan yang
sangat matang, berani, dan cekatan agar hasil iklan dapat memukau pemirsa.
Tidak semua orang memdapat kesempatan menjadi seorang penulis skrip ini,
sehingga dibutuhkan kemampuan yang sangat baik, mental yang sangat kuat, serta
dedikasi yang tinggi dalam mengerjakannya.
2.
Kesalahan penggunaan bahasa
Khalayak penonton televisi berbeda-beda sehingga interpretasi
terhadap iklan yang dibuat juga berbeda. Apabila bahasa yang digunakan tidak netral
atau menyinggung kelompok tertentu, maka bisa jadi akan mengundang protes dari
pemirsa. Seperti contohnya salah satu iklan televisi di Indonesia, yaitu Lifebuoy
yang ditayangkan pada tahun 2013 yang mengundang kontroversi. Dikarenakan salah
satu kalimat yang disampaikan yang mengatakan bahwa kebiasaan warga Bitobe,
NTT, kurang memiliki hidup bersih dan membutuhkan bantuan (Bere, 2013). Akibatnya,
beberapa pihak terkait melakukan protes untuk penarikan iklan akibat
tersinggung dengan penyataan yang disampaikan dalam voice over iklan
tersebut. Hal ini membuktikan bahwa bahasa sangatlah penting dalam media
komunikasi publik, termasuk dalam iklan televisi. Selain contoh tersebut, masih
banyak lagi iklan televisi diindonesia yang menjadi kontroversi hingga akhirnya
diblokir dan dihentikan penayangannya oleh Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI
(BiteBrands).
3.
Konten yang menyingung
Seorang copywriter akan mengalami
masalah jika hasil iklan yang telah dibuat mengandung pernyataan yang berbau
sara atau sensitif. Dalam beberapa kasus, KPI telah memblokir dan mengehentikan
tayangan beberapa iklan yang dianggap tidak layak tayang, baik secara bahasa,
adegan, maupun editing teks maupun efek lainnya. Apabila hal ini terjadi, khususnya
dalam segi bahasa yang digunakan, seorang copywriter akan dianggap tidak
mampu membuat iklan yang bermutu sehingga akan mengancam karir copyeriter untuk
masa yang akan datang. Dengan demikian, penulis skrip iklan membutuhkan
ketelitian dan kecermatan dalam setiap detail yang ada pada iklan televisi.
4.
Kesalahan logika dalam bahasa iklan
Menulis skripsi memang menarik, tapi tidak
mudah untuk dilakukan. Seorang copywriter harus memiliki pengetahuan
yang luas dalam berbagai bidang, dan salah satu yang terpenting adalah ilmu
bahasa. Penulisan skrip iklan dengan bahasa yang menggoda saja tidak cukup,
namun perlu diperhatikan pula sisi lain yang penting untuk diperhatikan, yaitu
kesalahan logika.
Seberapa penting kesalahan logika seperti
contohnya pada salah satu iklan yang menyebutkan; Orang Pintar Minum Tolak
Angin. Kesalahan logika terjadi karena dengan penyataan seperti demikian
mengindikasikan bahwa orang yang cerdas (pintar) yang minum tolak angin,
padahal kecerdasan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang diminum, melainkan
apa yang ia pelajari. Faktanya, produk tersebut merupakan obat masuk angin,
sehingga tidak ada kaitannya antara meminum obat masuk angin dengan kecerdasan
seseorang. Hal ini tidak banyak disadari oleh masyarakat, namun sangat penting
untuk diketahui untuk melatih berpikir kritis. Meskipun pernyataan ini
merupakan strategi pemasaran, namun penggunaan bahasa yang tidak memiliki makna
ganda atau kesalahan logika perlu untuk selalu diperhatikan.
5.
Menggiring opini publik
Tantangan selanjutnya dalam penulisan skrip yaitu secara tidak
langsung, setiap kalimat atau ucapan maupun gambar yang ditayangkan dalam iklan
televisi mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat atau pemirsa yang menyaksikan
iklan tersebut. Media televisi, termasuk melalui iklan, telah
menjadi sarana dalam perluasan ide-ide, gagasan,
maupun pemikiran terhadap fenomena sosial. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan
citra yang baik sesuai yang diinginkan. Dengan kata lain, selain untuk
meningkatkan penjualan, iklan juga menjadi sarana untuk menciptakan sebuah
citra.
Hal ini tentu merupakan tantangan berat
dikarenakan seorang pembuat iklan termasuk penulis skrip iklan harus memiliki
pola pikir yang netral dan memiliki pengetahuan yang luas. Sebagai contohnya
yaitu iklan rokok yang selalu menampilkan sosok pria sebagai model utama dengan
karisma yang tinggi, disukai banyak wanita, pemberani, sehat, dan lain
sebagainya. Dari segi bahasa, terdapat beberapa penggunaan istilah atau slogan
tertentu seperti pada iklan rokok Sejati yang menggunakan ungkapan “Bikin hidup
lebih enak” yang mengindikasikan dengan rokok maka hidup lebih enak. Secara
tidak langsung bahkan tanpa disadari, contoh tersebut mampu memicu pemirsa yang
menonton bahwa merokok bermanfaat dan membuat hidup lebih baik. Pada
kenyataannya, hal ini bertentangan dengan gagasan maupun kampanye yang
dilakukan pemerintah untuk tidak merokok.
Skrip yang ditulis juga berpengaruh dalam
ini. Bahasa yang digunakan akan didengarkan dan bahkan ditiru pemirsa yang
menyaksikan, sehingga pemilihan kata-kata maupun gaya bahasa harus selalu
diperhatikan. Dengan bahasa, opini public dapat terbentuk yang disampaikan
melalui iklan televisi yang merupakan gabungan dari audio dan visual. Dengan
demikian, opini publik maupun pemikiran dapat dengan dibentuk oleh iklan secara
implisit.
Kesimpulan
Menulis skrip menjadi sebuah tantangan dalam
memproduksi sebuah tayangan televisi yang baik untuk pemirsa. Skrip
iklan, dalam media televisi, berperan penting untuk bisa menciptakan iklan yang
menarik konsumen. Di sisi lain, berita features atau berita kisah dalam
media televisi, juga menjelaskan rangkaian suatu peristiwa dengan informasi
yang lebih mendalam. Data yang digunakan dalam esai ini yaitu merupakan hasil
Praktik Kerja Industri (PKL) di PT. Batu Jannah Televisi atau JTV Malang selama
tiga bulan.
Referensi
Syaputra Iswandi, Rezim media. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2013 hal 41
Morrison. Media penyiaran, strategi mengelola radio dan
televisi. Tangerang: Ramdina
Perkasa, 2005. hal 2
Baksin,
Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.
Harahap,
Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita.
Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.
Ishadi
SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ishadi
S. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Smith, Dow. 2000. Power Producer: A Practical
guide to TV news Producing – 2nd edition. Washington: Radio-Television News
Directors Association.
https://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/iklan-televisi/
Kompasiana.com. (n.d.). Teknik Liputan
dan Penulisan Naskah Berita. Retrieved March 10, 2018, from
https://www.kompasiana.com/agung.nugroho87/teknik-liputan-dan-penulisan-naskah-berita_551244478133118254bc6378
Bere (2013)
Iklan Sabun Mandi “Lifebuoy” Tuai Protes di NTT. Retrieved March 21, 2018, from
https://regional.kompas.com/read/2013/11/30/2041272/Iklan.Sabun.Mandi.Lifebuoy.Tuai.Protes.di.NTT
Menulis Naskah Iklan (2). (n.d.). Retrieved March
10, 2018, from http://romeltea.com/menulis-naskah-iklan-2/
peran Iklan televisi. (2011, August 10). Retrieved
March 10, 2018, from
https://kasmanto.wordpress.com/fungsi-dan-peranan-iklan-pada-televisi/
http://www.bitebrands.co/2016/12/iklan-paling-kontroversial-di-indonesia-kritikan-kecaman-dilarang.html
