Wednesday, 13 June 2018

Pengalaman Nulis Skrip Iklan Televisi

(Esai kali ini merupakan pengalaman magang di JTV Malang ya sobat)




Penulisan skrip di televisi memiliki beragam karakteristik, menyesuaikan dengan jenis program yang akan ditulis. Sebagai contoh, penulisan skrip berita harus mengunakan bahasa formal namun padat dan dapat dipahami berbagai kalangan dengan memperhatikan unsur 5W+1H (What, who, where, when, why, dan how), sedangkan untuk skrip iklan, menggunakan bahasa menarik, singkat, padat dan mampu mempengaruhi pemirsa. Selain contoh tersebut, aspek yang harus dipersiapkan dalam menulis skrip berbeda satu sama lain; tergantung pada jenis program. Skrip yang ditulis akan digunakan sebagai panduan dalam proses perekaman suara yang disebut dengan voice over (VO).
Dalam esai ini, penulis mengulas teknik penulisan skrip yang digunakan untuk VO pada iklan dan berita features televisi yang memiliki karakteristik yang berbeda. Skrip iklan, dalam media televisi, berperan penting untuk bisa menciptakan iklan yang menarik konsumen. Di sisi lain, berita features atau berita kisah dalam media televisi, juga menjelaskan rangkaian suatu peristiwa dengan informasi yang lebih mendalam. Data yang digunakan dalam esai ini yaitu merupakan hasil Praktik Kerja Industri (PKL) di PT. Batu Jannah Televisi atau JTV Malang selama tiga bulan.  Esai ini juga diharapkan menjadi rujukan dalam pengetahuan tentang jurnalistik televisi pada proses perkuliahan profesi  jurnalistik di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Menulis Skrip Iklan Televisi
Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan. Iklan menjadi sebuah seni dari persuasi dan dapat didefinisikan sebagai desain komunikasi yang dibiayai untuk memberi informasi dan atau membujuk.
Dari pengertian diatas, pada dasarnya iklan merupakan sarana komunikasi yang digunakan komunikator dalam hal ini perusahaan atau produsen untuk menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik, khususnya pelanggannya melalui suatu media massa. Selain itu, semua iklan dibuat dengan tujuan yang sama yaitu untuk memberi informasi dan membujuk para konsumen untuk mencoba atau mengikuti apa yang ada di iklan tersebut, dapat berupa aktivitas mengkonsumsi produk dan jasa yang ditawarkan. Iklan memiliki peran signifikan yaitu iklan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang untuk suatu produk atau sebagai pemicu penjualan-penjualan yang cepat (Kasmanto, 2011).
Disadari atau tidak, iklan dapat berpengaruh tetapi juga dapat berlalu begitu cepat. Iklan sangat unik karena iklan dapat mencapai tujuan meskipun disampaikan dengan panjang lebar dan terkadang membingungkan. Iklan televisi mengambil peran penting dalam beberapa hal (“Menulis Naskah Iklan” n.d.) yang meliputi; (1) Membangun dan mengembangkan citra positif bagi suatu perusahaan dan produk yang dihasilkan, melalui proses sosialisasi yang terencana dan tertata dengan baik, (2) membentuk publik opini yang positif terhadap perusahaan atau produk tersebut, (3) mengembangkan kepercayaan masyarakat terhadap produk konsumsi dan perusahaan yang memproduksinya, (4) menjalin komunikasi secara efektif dan efisien dengan masyarakat luas, sehingga dapat terbentuk pemahaman dan pengertian yang sama terhadap suatu produk atau jasa yang ditawarkan pada masyarakat oleh perusahaan tersebut.
Televisi, dengan menggunakan dua elemen kekuatan sekaligus yaitu audio dan visual menjadikan televisi sebagai media promosi yang sangat efektif, progresif, dan menjanjikan. Dengan tayangan iklan, acara pada televisi tidak membosankan serta monoton. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kreativitas serta inovasi-inovasi terbaru dalam pembuatan iklan. Meskipun saat ini iklan telah banyak digunakan pada sosial media, media televisi tetap memberikan ruang istimewa terhadap kesuksesan sebuah iklan. Iklan televisi.
Terdapat berbagai jenis durasi yang tersedia dalam pembuatan iklan di televisi yaitu durasi 15 detik, 30 detik atau 60 detik. Dengan durasi tayangan yang singkat tersebut, iklan diharapkan mampu membujuk pemirsa televisi. Semakin lama durasi sebuah iklan, maka semakin banyak informasi yang disampaikan serta semakin banyak konten atau isi dari skrip maupun gambar. Selain itu, lama durasi sebuah tayangan iklan di televisi juga akan mempengaruhi biaya penayangan iklan. Di JTV Malang, durasi iklan yang paling banyak digunakan yaitu iklan 30 detik dan iklan 60 detik. Durasi yang digunakan tergantung permintaan dari klien serta menyesuaikan dengan konten yang terdapat pada iklan tersebut.
Kekuatan media massa televisi dibandingkan dengan media massa lainnya yaitu pertama, televisi mampu menjangkau masyarakat yang sangat luas. Kelebihan ini menimbulkan efisiensi biaya untuk menjangkau setiap orang. Banyak pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan komersialnya. Kedua, iklan di televisi juga dirancang dengan kreativitas yang dapat dieksplorasi dan dioptimalkan dengan mengkombinasikan gerak, keindahan, suara, musik, drama, warna, humor, maupun ketegangan (Kasmanto, 2011).  Ketiga, iklan di televisi juga memberikan pengaruh yang kuat dikarenakan kebanyakan pemirsa melewatkan waktunya di depan televisi yang merupakan sarana hiburan, sumber berita, sarana pendidikan, dll.
Format Iklan Televisi
Dalam menulis skrip iklan, seorang penulis skrip harus memiliki rancangan yang jelas dalam memposisikan setiap adegan video atau gambar dengan VO yang menjadi pengisi suara. Rancangan untuk iklan di media ini, disamping memuat pesan iklan yang verbal untuk diperdengarkan, juga memuat visual (gambar) untuk diperlihatkan kepada pemirsa. Oleh karena itu, rancangan iklan televisi, memuat:
1.      1. Skrip yang terdiri dari dua kolom.
Dalam penulisan skrip iklan secara umum, penulis skrip menggunakan dua kolom, yaitu kolom kanan dan kolom kiri. Satu kolom sebelah kiri dibuat untuk melukiskan rentetan adegan dengan detail yang ada pada video. Sedangkan kolom kiri digunakan untuk menjelaskan suara apa saja yang harus terdengar pada saat visual ditampilkan serta memberi keterangan maupun judul.
Dalam praktiknya, JTV Malang menggunakan teori yang sama dalam penggunaan kolom. Bedanya, skrip iklan yang biasa ditulis oleh JTV Malang tidak selalu menggunakan detail dari detik dan menit dari video yang akan diedit. Hal ini dikarenakan tidak semua iklan merupakan hasil shooting atau pengambilan gambar oleh tim cameramen JTV Malang, melainkan juga didapat dari klien yang secara langsung memberikan file video atau bahkan memberikan file iklan yang sudah siap ditayangkan. Dengan kondisi tersebut, penulis skrip diharapkan mampu menyesuaikan dengan permintaan klien maupun konten iklan yang akan ditayangkan.
2.      2. Gambar
Gambar yang ditampilkan produk yang ditawarkan, gambar orang, kartun, maupun adegan lain sesuai dengan jalannya cerita yang tertera dalam skrip menyesuaikan dengan rancangan. Rancangan iklan televisi yang memuat script dan gambar inilah yang disebut dengan storyboard. Story board ini merupakan panduan bagi film director atau sutradara pada saat shooting dilaksanakan. Gambar-gambar dalam storyboard menggambarkan lajur visual dalam script.  Sedangkan teks (yang dalam storyboard biasanya ditulis di bawah atau disamping gambar) melukiskan kolom atau  lajur audio/sound dalam skrip (Nugroho, 2011). Menulis skrip sebaiknya jangan terlalu rinci dalam hal teknik pengambilan gambar, agar tidak membatasi kebebasan sutradara atau kameraman dalam melakukan pengambilan gambar. Gambar-gambar yang ada pada storyboard hanyalah key frames (gambar utama dari serangkaian adegan)
Memang idealnya, menurut Nugroho, seorang penulis naskah iklan atau copywriter iklan televisi mampu mengenali atau mempelajari bagaimana membuat film. Selain itu, penulis skrip juga seharusnya mengetahui teknik dasar menggunakan kamera (termasuk istilah-istilahnya) agar mampu meningkatkan kreativitas dalam menciptakan film iklan. Pengetahuan ini diperlukan agar nantinya ketika storyboard itu diproduksi, penulis skrip dapat mengerti penjelasan dari sutradara dan biasa berkomunikasi dengan kameraman di lapangan. Bahkan sampai hasil shooting itu diedit, penulis skrip mampu berdiskusi dengan editor film. Sayangnya, tidak semua melakukan upaya tersebut dikarenakan adanya kendala teknis, termasuk JTV Malang. Biasanya, pengambilan gambar atau proses shooting video disutradarai langsung oleh kameramen yang melakukan survei sebelum pengambilan video. Hanya saja, iklan yang rata-rata ditayangkan pada JTV Malang merupakan iklan bisnis lokal di area Malang, iklan profil perusahaan, layanan masyarakat, tempat wisata, kedai makanan dan minuman, lembaga pendidikan, dan bahkan produk kreativitas lokal, dan lain sebagainya. Adapun penyiarannya adalah di JTV Malang yang meilputi Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang.  Dengan demikian, detail serta kesempurnaan dari setiap adegan maupun gambar dari suatu iklan tidak terlalu diperhatikan. Selain itu, keterbatasan tim kreatif serta alat-alat yang mendukung seperti kamera, story board, lighting set, maupun perangkat lainnya mempengaruhi hasil gambar pada iklan yang ditayangkan.
Gambar yang diambil dalam pembuatan iklan di JTV Malang menggunakan empat sumber; melakukan shooting atau pengambilan gambar secara langsung ke lokasi, mendapatkan berkas video mentah yang belum diedit dari klien langsung, video yang diperoleh lewat gabungan beberapa video di internet dan kemudian diedit, serta sumber iklan yang sudah jadi dan siap untuk ditayangkan. Dalam proses pengambilan gambar secara langsung di lokasi, kameramen JTV Malang juga menjadi sutradara dari pembuatan iklan. Kameramen kemudian akan menginstruksikan kepada penulis skrip untuk menulis skrip VO tentang gambar di detik maupun menit yang telah dirancang oleh kameramen. Gambar yang sudah direkam dan diterima kemudian akan dibuatkan naskah VO yang akan dilanjutkan untuk disunting atau editing oleh seorang editor. Kemudian, editor akan menyesuaikan durasi video yang akan di tayangkan, efek atau animasi yang dibutuhkan, penempatan VO pada video serta beberapa hal terkait video sebelum siap untuk ditayangkan.


Teknik Penulisan Skrip Iklan
Pada umumnya, skrip dalam dunia pertelevisian ditulis dengan font Courier ukuran 12. Hal ini dimaksudkan agar proses pembacaan dalam voice over lebih mudah serta mempermudah editor dalam memperkirakan panjang naskah yang ditulis. Hanya saja, saat ini format seperti diatas hanya digunakan pada produksi tertentu saja seperti skrip film, reality show, dst. Untuk keperluan VO, beberapa perusahaan televisi atau radio sekalipun memiliki standar masing-masing dalam menggunakan font yang digunakan dalam proses penulisan skrip. Berdasarkan buku panduan penulisan skrip internasional, skrip yang ditulis harus mengunakan bahasa yang lugas dan mampu menarik pemirsa. Selain itu, tenses yang digunakan apabila menggunakan bahasa Inggris dalam penulisan krip iklan yaitu menggunakan present tense agar ucapan yang akan direkam tidak membosankan. 
Selama proses penulisan skrip di JTV Malang, font yang digunakan adalah Arial Narrow berukuran 11 dengan format tulisan uppercase atau menggunakan huruf kapital. Alasannya, karena font jenis ini cukup padat dan bila ditulis dengan huruf capital maka akan cukup mudah untuk dibaca oleh narator. Untuk penulisan skrip iklan, diharapkan tulisan dapat dengan mudah dibaca termasuk tanda pemisah seperti kapan harus koma ataupun titik. Dengan demikian, proses VO akan berjalan dengan lebih mudah. Bukan hanya itu, bagi beberapa copywriter yang lebih detail, maka dalam skrip iklan tersebut akan diberi keterangan tambahan tentang ekspresi yang harus disampaikan, jenis suara, tinggi rendahnya suara, panjang pendek maupun kecepatan pelafalan saat melakukan proses VO. Tentu saja, hal ini bertujuan untuk menghasilkan karya iklan yang memuaskan dan mampu menarik pemirsa untuk membeli produk yang diiklankan tersebut.
Untuk mempermudah proses pembacaan naskah, penggunaan formatting juga diizinkan dalam proes penulisan skrip iklan. Seperti misalnya dalam penulisan skrip ang harus mencantumkan nama tokoh tertentu, maka nama yang ditulis lebih baik dipertebal (bold) atau garis bawah (underline) untuk menghindari kesalahan penyebutan nama atau jabatan. 

Gaya Bahasa Iklan Televisi
·         Eksploratif : naskah iklan menggali sedalam mungkin keunggulan produk, dengan kata-kata akurat dan tidak terlalu berlebihan, sehingga mampu meyakinkan publik akan keunggulan dan manfaat produk tersebut bagi mereka. Contoh dari bahasa yang eksploratif dalam penulisan iklan yaitu: HANYA DENGAN LIMA DUA PULUH RIBU RUPIAH/ ANDA BISA MENIKMATI WATERBOOM/ BOM BOM CAR/ DAN FLYING FOX YANG PASTI SERU!
·  Denotatif: kata-kata yang digunakan sedapat mungkin tidak barmakna ganda (ambigue) sehingga pesannya jelas dan tegas. Contohnya yaitu: SAHABAT AIR MENAWARKAN PELATIHAN OLAH RAGA DAN WISATA YANG MENYENANGKAN/ EDUKATIF/ SERTA DITUNJANG DENGAN LOKASI YANG MASIH ASRI//
·  Naratif: menguraikan produk dalam bentuk cerita dengan pilihan kata dan kalimat (gaya bahasa) semenarik mungkin. Contohnya yaitu: BERBAGAI WAHANA YANG NYAMAN/ INDAH/ DAN ALAMI/ AKAN MEMANJAKAN LIBURAN ANDA//
·  Imajinatif: pilihan kata mengandung majinasi dan ”membuai” dengan tetap mengedepankan kebenaran fakta produk dan tidak mengandung kebohongan. Contohnya yaitu: NIKMATI HARI-HARI PENUH WARNA DI KOTA WISATA BATU/ BERSAMA SAHABAT AIR//
· Argumentatif: mempengaruhi audiens secara jelas dan nyata dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. NIKMATI FRIED CHICKEN SUPER RENYAH YANG HIGIENIS DAN HALAL/ MULAI PROSES PEMOTONGAN/ PENGOLAHAN/ HINGGA PENYAJIAN//
· Informatif: menginformasikan secara detail tentang produk. Sejumlah data yang mneunjang disampaikan komunikatif dan menghindari news style, meski hakikatnya memang berisi informasi. OBJEK WISATA KECE INI TERLETAK DI AREA PEGUNUNGAN BATU YANG SEJUK DAN ASRI LHO//
·    Persuasif: membujuk audiens agar segera menggunakan produk yang diperkenalkan atau ditawarkan. Contohnya yaitu: DAPATKAN JUGA DISKON 50-70% DI BULAN DESEMBER!


Etika
Dalam proses penulisan skrip iklan, copywriter juga harus memiliki etika agar mampu menghasilkan tulisan efektif untuk penjualan produk yang diiklankan. Penulisan naskah iklan tidak boleh berisi dusta atau membohongi masyarakat, tidak mengandung unsure sara, tidak menimbulkan fitnah, serta tidak melanggar kode etik periklanan dan undang-undang perlindungan konsumen. Dalam hal ini, menjelek-jelekkan produk lain juga termasuk pelanggaran kode etik periklanan. Meski beberapa iklan kerap terlihat melakukan tindakan menjelek-jelekkan produk atau iklan lain, namun iklan tersebut tidak secara eksplisit mengekspos nama dari produk lain. Dengan demikian, pengetahuan copywriter, kreativitas, serta etika atau norma yang secara umum berlaku di masyarakat harus selalu diperhatikan.

Kekuatan Dan Kelemahan Menulis Skrip Iklan di Media Televisi
Kekuatan iklan di media televisi meliputi:
1.      Televisi mempunyai pengaruh dan dampak komunikasi yang kuat karena mengandalkan audio, visual, dan gerak. Bagi khalayak sasaran, iklan televisi mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi pemirsa. Dengan demikian, bahasa yang digunakan harus lebih menarik sehingga menjadi sebuah tantangan untuk bisa menulis skrip iklan di televisi.
2.      Bahasa yang digunakan dalam menulis skrip iklan di televisi cukup singkat sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Bahasa yang digunakan juga sebisa mungkin merupakan bahasa keseharian masyarakat agar lebih mudah dipahami sehingga proses penulisan juga, dalam beberapa konteks, dapat dikatakan lebih mudah.
3.      Menulis skrip iklan akan membawa dampak yang sangat signifikan bila skrip yang ditulis memiliki kekuatan penjualan yang mampu menarik minat pemirsa melalui bujukan yang disampaikan dari skrip yang telah ditulis oleh copywriter. Dengan kata lain, seseorang yang sudah ahli menjadi copywriter iklan akan mndapatkan keuntungan besar dari kesuksesan sebuah iklan.
Bukan hanya memiliki keunggulan, menulis skrip iklan juga memiliki beberapa tantangan yang dapat dijumpai dan mungkin bisa menimbulkan masalah. Tantangan menulis skrip iklan di televisi diantaranya:
1.      Tuntutan yang sangat tinggi sesuai keinginan klien.
Iklan membutuhkan biaya yang relatif besar untuk memproduksi dan menyiarkan iklan komersial. Besarnya biaya ini dihitung dari pembayaran artis, production house, dan membeli waktu media televisi yang sangat besar. Dengan kondisi tersebut, seorang copywriter harus memiliki kemampuan yang sangat matang, berani, dan cekatan agar hasil iklan dapat memukau pemirsa. Tidak semua orang memdapat kesempatan menjadi seorang penulis skrip ini, sehingga dibutuhkan kemampuan yang sangat baik, mental yang sangat kuat, serta dedikasi yang tinggi dalam mengerjakannya.

2.      Kesalahan penggunaan bahasa
Khalayak penonton televisi berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap iklan yang dibuat juga berbeda. Apabila bahasa yang digunakan tidak netral atau menyinggung kelompok tertentu, maka bisa jadi akan mengundang protes dari pemirsa. Seperti contohnya salah satu iklan televisi di Indonesia, yaitu Lifebuoy yang ditayangkan pada tahun 2013 yang mengundang kontroversi. Dikarenakan salah satu kalimat yang disampaikan yang mengatakan bahwa kebiasaan warga Bitobe, NTT, kurang memiliki hidup bersih dan membutuhkan bantuan (Bere, 2013). Akibatnya, beberapa pihak terkait melakukan protes untuk penarikan iklan akibat tersinggung dengan penyataan yang disampaikan dalam voice over iklan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa bahasa sangatlah penting dalam media komunikasi publik, termasuk dalam iklan televisi. Selain contoh tersebut, masih banyak lagi iklan televisi diindonesia yang menjadi kontroversi hingga akhirnya diblokir dan dihentikan penayangannya oleh Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI (BiteBrands).

3.      Konten yang menyingung
Seorang copywriter akan mengalami masalah jika hasil iklan yang telah dibuat mengandung pernyataan yang berbau sara atau sensitif. Dalam beberapa kasus, KPI telah memblokir dan mengehentikan tayangan beberapa iklan yang dianggap tidak layak tayang, baik secara bahasa, adegan, maupun editing teks maupun efek lainnya. Apabila hal ini terjadi, khususnya dalam segi bahasa yang digunakan, seorang copywriter akan dianggap tidak mampu membuat iklan yang bermutu sehingga akan mengancam karir copyeriter untuk masa yang akan datang. Dengan demikian, penulis skrip iklan membutuhkan ketelitian dan kecermatan dalam setiap detail yang ada pada iklan televisi.
4.      Kesalahan logika dalam bahasa iklan
Menulis skripsi memang menarik, tapi tidak mudah untuk dilakukan. Seorang copywriter harus memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang, dan salah satu yang terpenting adalah ilmu bahasa. Penulisan skrip iklan dengan bahasa yang menggoda saja tidak cukup, namun perlu diperhatikan pula sisi lain yang penting untuk diperhatikan, yaitu kesalahan logika.
Seberapa penting kesalahan logika seperti contohnya pada salah satu iklan yang menyebutkan; Orang Pintar Minum Tolak Angin. Kesalahan logika terjadi karena dengan penyataan seperti demikian mengindikasikan bahwa orang yang cerdas (pintar) yang minum tolak angin, padahal kecerdasan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang diminum, melainkan apa yang ia pelajari. Faktanya, produk tersebut merupakan obat masuk angin, sehingga tidak ada kaitannya antara meminum obat masuk angin dengan kecerdasan seseorang. Hal ini tidak banyak disadari oleh masyarakat, namun sangat penting untuk diketahui untuk melatih berpikir kritis. Meskipun pernyataan ini merupakan strategi pemasaran, namun penggunaan bahasa yang tidak memiliki makna ganda atau kesalahan logika perlu untuk selalu diperhatikan.
5.      Menggiring opini publik
Tantangan selanjutnya dalam penulisan skrip yaitu secara tidak langsung, setiap kalimat atau ucapan maupun gambar yang ditayangkan dalam iklan televisi mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat atau pemirsa yang menyaksikan iklan tersebut. Media televisi, termasuk melalui iklan, telah menjadi sarana dalam perluasan ide-ide, gagasan, maupun pemikiran terhadap fenomena sosial. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan citra yang baik sesuai yang diinginkan. Dengan kata lain, selain untuk meningkatkan penjualan, iklan juga menjadi sarana untuk menciptakan sebuah citra.
Hal ini tentu merupakan tantangan berat dikarenakan seorang pembuat iklan termasuk penulis skrip iklan harus memiliki pola pikir yang netral dan memiliki pengetahuan yang luas. Sebagai contohnya yaitu iklan rokok yang selalu menampilkan sosok pria sebagai model utama dengan karisma yang tinggi, disukai banyak wanita, pemberani, sehat, dan lain sebagainya. Dari segi bahasa, terdapat beberapa penggunaan istilah atau slogan tertentu seperti pada iklan rokok Sejati yang menggunakan ungkapan “Bikin hidup lebih enak” yang mengindikasikan dengan rokok maka hidup lebih enak. Secara tidak langsung bahkan tanpa disadari, contoh tersebut mampu memicu pemirsa yang menonton bahwa merokok bermanfaat dan membuat hidup lebih baik. Pada kenyataannya, hal ini bertentangan dengan gagasan maupun kampanye yang dilakukan pemerintah untuk tidak merokok.
            Skrip yang ditulis juga berpengaruh dalam ini. Bahasa yang digunakan akan didengarkan dan bahkan ditiru pemirsa yang menyaksikan, sehingga pemilihan kata-kata maupun gaya bahasa harus selalu diperhatikan. Dengan bahasa, opini public dapat terbentuk yang disampaikan melalui iklan televisi yang merupakan gabungan dari audio dan visual. Dengan demikian, opini publik maupun pemikiran dapat dengan dibentuk oleh iklan secara implisit. 

Kesimpulan 
Menulis skrip menjadi sebuah tantangan dalam memproduksi sebuah tayangan televisi yang baik untuk pemirsa. Skrip iklan, dalam media televisi, berperan penting untuk bisa menciptakan iklan yang menarik konsumen. Di sisi lain, berita features atau berita kisah dalam media televisi, juga menjelaskan rangkaian suatu peristiwa dengan informasi yang lebih mendalam. Data yang digunakan dalam esai ini yaitu merupakan hasil Praktik Kerja Industri (PKL) di PT. Batu Jannah Televisi atau JTV Malang selama tiga bulan. 


Referensi
Syaputra Iswandi, Rezim media. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013 hal 41
Morrison. Media penyiaran, strategi mengelola radio dan televisi. Tangerang: Ramdina
Perkasa, 2005. hal 2
Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.
Ishadi SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ishadi S. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Smith, Dow. 2000. Power Producer: A Practical guide to TV news Producing – 2nd edition. Washington: Radio-Television News Directors Association.
https://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04/iklan-televisi/
Kompasiana.com. (n.d.). Teknik Liputan dan Penulisan Naskah Berita. Retrieved March 10, 2018, from https://www.kompasiana.com/agung.nugroho87/teknik-liputan-dan-penulisan-naskah-berita_551244478133118254bc6378
Bere (2013) Iklan Sabun Mandi “Lifebuoy” Tuai Protes di NTT. Retrieved March 21, 2018, from https://regional.kompas.com/read/2013/11/30/2041272/Iklan.Sabun.Mandi.Lifebuoy.Tuai.Protes.di.NTT
Menulis Naskah Iklan (2). (n.d.). Retrieved March 10, 2018, from http://romeltea.com/menulis-naskah-iklan-2/
peran Iklan televisi. (2011, August 10). Retrieved March 10, 2018, from https://kasmanto.wordpress.com/fungsi-dan-peranan-iklan-pada-televisi/
http://www.bitebrands.co/2016/12/iklan-paling-kontroversial-di-indonesia-kritikan-kecaman-dilarang.html

Load comments