Friday, 29 June 2018

Seperti Apa Rasanya Menjadi Musyrif MSAA?

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman menjadi musyrif di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA). Bagi siapa saja yang ingin menjadi musyrif, jangan lupa baca dulu tulisan ini ya. Jadi yang belum tau nih, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terdapat ma’had atau pesantren mahasiswa yang mewajibkan mahasiswa tahun pertama untuk tinggal disini untuk mendalami ilmu agama. Untuk yang masih belum paham ma’had di UIN Malang ini seperti apa, bisa baca artikel ini.

Setelah selesai kegiatan selama satu tahun, kita bisa memilih untuk tinggal di luar ma’had atau menjadi musyrif. Nah, kebetulan saya telah menjadi musyrif selama tiga tahun sejak tahun 2015 hingga 2018. Yang perlu diingiat adalah, menjadi musyrif berarti menjadi volunteer yang mengabdikan diri untuk ma’had dan untuk kampus. Jadi tidak akan ada imbalan material yang kita dapatkan, tapi kita akan dapat banyak sekali ilmu dan pengalaman yang mendidik. Bahkan, musyrif harus siap untuk mengeluarkan uang pribadi untuk mensukseskan kegiatan atau aktivitas ma’had yang kita lakukan. Itulah dedikasi, mengabdi dengan ikhlas untuk membawa perubahan yang lebih baik tanpa mengharap imbalan. 

Ketika menjadi mahasantri, saya tidak ada ketertarikan sedikitpun untuk menjadi musyrif karena takut akan kesibukan di ma’had dan akhirnya tidak bisa fokus pada kuliah atau kegiatan lain. tapi saya mendapat pengalaman yang berbeda Alhamdulillah. Selama di ma’had, mungkin  ada beberapa teman yang merasa tidak betah dan segera ingin pindah, tapi saya selalu merasa sangat betah karena saya bisa belajar memperdalam pengetahuan keagamaan melalui berbagai kegiatan khas pesantren seperti Shobahul Lughoh setiap Senin sampai Jumat, ta’lim afkar dan ta’lim Quran sebanyak dua kali seminggu, belajar khitobah atau ceramah, belajar sholawat al banjari, dan masih banyak lagi. Satu tahun belum cukup bagi saya yang sangat kurang di sisi ilmu keagamaan, dan masih ingin menggali banyak ilmu maupun pengalaman di ma’had, akhirnya saya memutuskan menjadi mendaftar sebagai musyrif. Dengan dorongan kuat dari kakak-kakak musyrif saya waktu itu, akhirnya kesempatan itu pun datang.

Saya sempat ragu saat mendaftar karena terdapat banyak sekali tes yang harus dilalui meliputi seleksi administrasi dengan berbagai surat rekomendasi serta dokumen-dokumen penunjang lainnya yang cukup rumit, tes tulis bahasa Inggris dan Arab, tes baca kitab dan Al Quran, tes komitmen, internal assessment dari musyrif dan murobbi tentang keaktifan dalam mengikuti kegiatan serta perilaku kita selama di ma’ahd, dst. Awalnya sangat minder dengan kemampuan saya yang sangat kurang dan harus menghadapi berbagai tes tersebut. Tapi semua telah dilalui dengan baik, dan akhirnya diterima. Nah, setelah diterima pun cukup terharu karena bisa terpilih bersama muyrif-musyrif lainnya yang hebat di bidangnya jadi sangat bersyukur pada saat itu.  

Setelah menjadi musyrif, ada berbagai tanggungjawab yang harus kita lakukan. Pertama, tentunya Pengembangan Sumber Daya Musyrif/ah (PSDM). Ini semacam kegiatan karantina bagi mereka yang dinyatakan lolos dan sudah ditempatkan di mabna yang baru sebagai seorang musyrif atau musyrifah. Jadi di agenda ini, kita akan dikenalkan dengan berbagai sistem yang diterapkan di ma’had, tanggung jawab yang harus dilakukan, manajemen kema’hadan, cara menghadapi mahasantri, dan masih banyak lagi. Banyak sekali materi yang disampaikan di PSDM ini yang akan menambah pengetahuan kita sebelum terjun ke lapangan menjadi mahasantri. Jadi, acara ini dilakukan di saat teman-teman kita yang bukan musyrif masih menikmati liburan. 

Nah, menjadi seorang musyrif tidak selalu menyenangkan. Ada banyak sekali tanggung jawab yang dipercayakan pada kami selama mengabdi untuk mendukung generasi Ulul Albab kampus ini. Hal pertama yang mengawali pagi hari seorang musyrif/ah adalah membangunkan mahasantri untuk sholat shubuh berjama’ah di masjid. Tentu saja, musyrif harus bangun labih awal sebelum adzan subuh dikumandangakn untuk bisa membangunkan mahasantri. Kami harus membangunkan ratusan mahasantri dan memastikan mereka berangkat menuju masjid. Satu mabna biasanya memiliki belasan musyrif, jika saja semuanya bergerak, tentu tanggung jawab yang satu ini akan sangat mudah. Tapi tidak semua orang seperti itu ya, kita pasti akan menjumpai kawan musyrif yang mungkin tidak sesuai ekspektasi kita. Bahkan, saya pun pernah harus membangunkan seluruh mabna sebanyak 47 kamar mahasantri, dimana setiap kamar dihuni enam mahasantri. So tiring, right? Tapi memang harus siap, sabar, dan semangat. Itu saja belum cukup, saat kami membangunkan mahasantri, respon mereka pun beragam mulai dari mengiyakan, diam saja, bahkan ada yang marah saat dibangunkan. Pernah juga ada mahasantri yang berkata kasar kepada saya dan bersikap sangat kurang sopan saat saya bangunkan. Mungkin karena mereka terlampau lelah atau mungkin cara saya membangunkan kurang pas. Ada juga yang bangun untuk mengelabui kami dengan sembunyi di toilet, pura-pura sakit, bilang “Iya, kak” tapi tidur lagi, kelelahan karena lembur tugas, belum lagi saat masuk kamar mereka ada juga yang berantakan, kotor, bau, dan seterusnya. In short, kami harus membangunkan mahasantri sebanyak itu dengan berbagai karakter mereka dalam waktu yang singkat karena setelah iqomah dikumandangkan kami para musyrif pun harus bergegas menuju masjid juga.  Ini pengalaman yang akan selalu dihadapi seorang musyrif saat membangunkan mahasantri. Berat memang, tapi kami berusaha melakukan yang terbaik dan memberikan dedikasi kami untuk ma’had dan membimbing mahasantri untuk jadi orang yang lebih baik. 

Setelah memastikan mereka berangkat ke masjid menunaikan sholat subuh, kami para musyrif masih harus mengkondisikan mereka untuk mengikuti kegiatan shobahul lughoh, yaitu belajar bahasa Arab dan Inggris. Banyak dari mereka yang tidur, sembunyi, dan berbagai alasan lainnya agar mereka tidak ikut shobahul lughoh. Sedangkan dari sisi musyrif, kami harus menyiapkan bahan ajar untuk mahasantri dan harus berfikir cepat mengambil solusi agar suasana kegiatan ini tidak membosankan serta memastikan semua musyrif yang menjadi tutor hadir tepat waktu. Kebetulan, saya selalu menjadi koordinator divisi bahasa yang bertanggung jawab untuk mengatur semua kegiatan dan administrasi yang berhubungan dengan kegiatan kebahasaan, terutama shobahul lughoh ini. Jadi harus memastikan presensi mahasantri sampai di musyrif pengajar masing-masing sebanyak belasan, mengkondisikan mahasantri agar tidak kabur atau bosan, menciptakan kegiatan kebahasaan yang mengasikkan, membuat game bahasa agar mahasantri tidak bosan, melakukan penginputan presensi tepat waktu, memberikan hukuman (iqob) bagi mahasantri yang tidak pernah hadir, menciptakan budaya berbahasa Arab dan Inggris di lingkungan mabna, membimbing mahasantri jika mengalami kesulitan belajar bahasa, dan masih banyak lagi. belum lagi ditambah kegiatan sore seperti sholawat al Banjari, khitobah, qiro’ah al Quran, tahsin al Quran, dan lain lain dimana sosok musyrif harus selalu ada untuk mendampingi dan memastikan mahasantri hadir. Truly exhausting, but it remained unforgettable. Saya bisa belajar banyak hal dari semua itu. 

Selain itu, setiap musyrif akan mendapat jatah untuk mendampingi mahasantri selama satu tahun di ma’had. Biasanya, setiap musyrif mendapat satu sampai tiga kamar dampingan dimana setiap kamar berisi enam mahasantri. Kami harus selalu memastikan mereka sholat, aktif mengikuti kegiatan ma’had, tidak keluyuran malam, tidak berbuat hal yang membahayakan, melakukan monitoring materi kegiatan di ma’had, mengingatkan jika ada yang tidak beres, menjadi teman curhat ketika mereka punya masalah, mengkondisikan mereka agar tidak bertengkar, dan pastinya memberi mereka motivasi sebaik-baiknya. Intinya, kami bertindak sebagai ‘ayah’ mereka selama di mahad. Jadi pastinya kami berusaha untuk selalu ada untuk mereka sehingga mereka bisa belajar dengan tenang dan nyaman, bisa betah dan mengikuti kegiatan dengan baik di ma'had, serta menjadi sosok yang jauh lebih baik setelah keluar dari ma’had nantinya. Is it easy? Absolutely NO. Kami harus bisa mengatur waktu untuk bisa menyapa dan membimbing mereka setiap hari di tengah kesibukan kami sebagai mahasiswa yang juga memiliki banyak tugas kuliah dan aktivitas lain selain di ma’had. 

Bukan hanya membimbing adik-adik mahasantri, namun para musyrif pun juga butuh bimbingan. Jadi, kami para musyrif juga melakukan aktivitas yang hampir sama seperti mahasantri diantaranya kami mengikuti kajian rutin kitab kuning bersama para ustad dan kiai selama sekali seminggu, mengkhatamkan Al Quran dengan ngaji di mushohih selama hari Senin-Jum’at, ikut pengajian serta sholawat al banjari seminggu sekali, dan masih banyak lagi. nah, ma’had juga tidak hanya soal ngaji, tapi juga terdapat banyak kegiatan tambahan lainnya seperti lomba manasik haji, banjari, kithobah atau da’i, debat bahasa Arab, debat bahasa Inggris, MSQ, cerdas cermat, duta lingual, design karya kostum recycle, drama fiqyah, dan masih banyak yang lainnya. Pastinya, beberapa diantara kami setiap mabna akan dipilih menjadi panitia yang harus mempersiapkan segala hal dan melakukan rapat berkali-kali hingga larut malam dan bahkan terkadang harus kerja lembur. Kalaupun tidak menjadi panitia, kita harus membimbing dan melatih adik-adik mahasantri yang akan bertanding mewakili mabna sebaik-baiknya untuk meraih juara. Inilah gambaran lain yang cukup menantang ketika memutuskan menjadi seorang supervisor ma'had.

Hal menarik lainnya adalah tentang kebersamaan yang kami rasakan dengan mahasantri maupun sesama musyrif. Kami belajar banyak tentang organisasi dan kepemimpinan yang akhirnya mengajarkan kami untuk saling menghargai dan menerima perbedaan satu sama lain. mungkin ada beberapa kawan musyrif yang tidak sepaham dan sependapat, atau mungkin mahasantri yang nakalnya luar biasa dan akhirnya kami lah yang harus bertanggungjawab dan berusaha membantu semaksimal mungkin. Sedihnya yaitu terkadang ketika kami disalahkan dan diprotes mahasantri atas apa yang seharusnya bukan merupakan tanggung jawab kami, harus mengalah dan sabar tapi tetap tegas dalam bertindak maupun menyikapi mereka. Menjadi musyrif serasa kita memiliki keluarga di MSAA. Selama tiga tahun mengabdikan diri untuk bisa membantu mencetak generasi yang diinginkan kampus yaitu generasi Ulul Albab, dengan segala upaya yang kami lakukan, dengan segala pro dan kontra yang harus kami hadapi, serta tuntutan tanggung jawab sebagai mahasiswa sekaligus musyrif yang pasti terlihat sangat berat. Namun, saya selalu bersyukur, selalu bersyukur, dan akan selalu bersyukur pernah dipercaya menjadi musyrif dan bisa menimba ilmu maupun pengalaman sebanyak-banyaknya serta bisa berbagi pengetahuan kepada orang lain. Saya juga bersyukur bisa menimba ilmu kepada para ustaz dan kiai yang ada di MSAA. Satu hal luar biasa yang belum pernah saya rasakan karena baru pertama kali merasakan kehidupan sebagai santri pondok untuk mahasiswa. Bertanggungjawab menjadi musyrif selalu memberikan pelajaran hidup luar biasa tentang arti dari dedikasi, perjuangan, kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan kepemimpinan yang pasti akan sangat bermanfaat untuk kehidupan di masa depan. Sekali lagi, saya yakin, menjadi bagian dari keluarga MSAA akan sangat berdampak sangat positif selama kita mampu menggali ilmu di tempat yang kami sebut sebagai rumah kedua ini.

Load comments