Kali ini, saya akan berbagi
pengalaman menjadi musyrif di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA). Bagi siapa saja
yang ingin menjadi musyrif, jangan lupa baca dulu tulisan ini ya. Jadi yang belum tau nih, di UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang terdapat ma’had atau pesantren mahasiswa
yang mewajibkan mahasiswa tahun pertama untuk tinggal disini untuk mendalami
ilmu agama. Untuk yang masih belum paham ma’had di UIN Malang ini seperti apa,
bisa baca artikel ini.
Setelah selesai
kegiatan selama satu tahun, kita bisa memilih untuk tinggal di luar ma’had atau
menjadi musyrif. Nah, kebetulan saya telah menjadi musyrif selama tiga tahun
sejak tahun 2015 hingga 2018. Yang perlu diingiat adalah, menjadi musyrif
berarti menjadi volunteer yang mengabdikan diri untuk ma’had dan untuk kampus. Jadi
tidak akan ada imbalan material yang kita dapatkan, tapi kita akan dapat banyak
sekali ilmu dan pengalaman yang mendidik. Bahkan, musyrif harus siap untuk
mengeluarkan uang pribadi untuk mensukseskan kegiatan atau aktivitas ma’had
yang kita lakukan. Itulah dedikasi, mengabdi dengan ikhlas untuk membawa
perubahan yang lebih baik tanpa mengharap imbalan.
Ketika menjadi mahasantri, saya
tidak ada ketertarikan sedikitpun untuk menjadi musyrif karena takut akan
kesibukan di ma’had dan akhirnya tidak bisa fokus pada kuliah atau kegiatan
lain. tapi saya mendapat pengalaman yang berbeda Alhamdulillah. Selama di ma’had,
mungkin ada beberapa teman yang merasa
tidak betah dan segera ingin pindah, tapi saya selalu merasa sangat betah
karena saya bisa belajar memperdalam pengetahuan keagamaan melalui berbagai
kegiatan khas pesantren seperti Shobahul Lughoh setiap Senin sampai Jumat, ta’lim
afkar dan ta’lim Quran sebanyak dua kali seminggu, belajar khitobah atau
ceramah, belajar sholawat al banjari, dan masih banyak lagi. Satu tahun belum
cukup bagi saya yang sangat kurang di sisi ilmu keagamaan, dan masih ingin
menggali banyak ilmu maupun pengalaman di ma’had, akhirnya saya memutuskan
menjadi mendaftar sebagai musyrif. Dengan dorongan kuat dari kakak-kakak
musyrif saya waktu itu, akhirnya kesempatan itu pun datang.
Saya sempat ragu saat mendaftar
karena terdapat banyak sekali tes yang harus dilalui meliputi seleksi
administrasi dengan berbagai surat rekomendasi serta dokumen-dokumen penunjang
lainnya yang cukup rumit, tes tulis bahasa Inggris dan Arab, tes baca kitab dan
Al Quran, tes komitmen, internal assessment dari musyrif dan murobbi tentang keaktifan
dalam mengikuti kegiatan serta perilaku kita selama di ma’ahd, dst. Awalnya sangat
minder dengan kemampuan saya yang sangat kurang dan harus menghadapi berbagai
tes tersebut. Tapi semua telah dilalui dengan baik, dan akhirnya diterima. Nah,
setelah diterima pun cukup terharu karena bisa terpilih bersama muyrif-musyrif
lainnya yang hebat di bidangnya jadi sangat bersyukur pada saat itu.
Setelah menjadi musyrif, ada
berbagai tanggungjawab yang harus kita lakukan. Pertama, tentunya Pengembangan
Sumber Daya Musyrif/ah (PSDM). Ini semacam kegiatan karantina bagi mereka yang
dinyatakan lolos dan sudah ditempatkan di mabna yang baru sebagai seorang
musyrif atau musyrifah. Jadi di agenda ini, kita akan dikenalkan dengan
berbagai sistem yang diterapkan di ma’had, tanggung jawab yang harus dilakukan,
manajemen kema’hadan, cara menghadapi mahasantri, dan masih banyak lagi. Banyak
sekali materi yang disampaikan di PSDM ini yang akan menambah pengetahuan kita
sebelum terjun ke lapangan menjadi mahasantri. Jadi, acara ini dilakukan di
saat teman-teman kita yang bukan musyrif masih menikmati liburan.
Nah, menjadi seorang musyrif tidak
selalu menyenangkan. Ada banyak sekali tanggung jawab yang dipercayakan pada
kami selama mengabdi untuk mendukung generasi Ulul Albab kampus ini. Hal pertama
yang mengawali pagi hari seorang musyrif/ah adalah membangunkan mahasantri
untuk sholat shubuh berjama’ah di masjid. Tentu saja, musyrif harus bangun
labih awal sebelum adzan subuh dikumandangakn untuk bisa membangunkan
mahasantri. Kami harus membangunkan ratusan mahasantri dan memastikan mereka
berangkat menuju masjid. Satu mabna biasanya memiliki belasan musyrif, jika
saja semuanya bergerak, tentu tanggung jawab yang satu ini akan sangat mudah. Tapi
tidak semua orang seperti itu ya, kita pasti akan menjumpai kawan musyrif yang
mungkin tidak sesuai ekspektasi kita. Bahkan, saya pun pernah harus
membangunkan seluruh mabna sebanyak 47 kamar mahasantri, dimana setiap kamar
dihuni enam mahasantri. So tiring, right? Tapi memang harus siap, sabar, dan
semangat. Itu saja belum cukup, saat kami membangunkan mahasantri, respon
mereka pun beragam mulai dari mengiyakan, diam saja, bahkan ada yang marah saat
dibangunkan. Pernah juga ada mahasantri yang berkata kasar kepada saya dan
bersikap sangat kurang sopan saat saya bangunkan. Mungkin karena mereka
terlampau lelah atau mungkin cara saya membangunkan kurang pas. Ada juga yang
bangun untuk mengelabui kami dengan sembunyi di toilet, pura-pura sakit,
bilang “Iya, kak” tapi tidur lagi, kelelahan karena lembur tugas, belum lagi
saat masuk kamar mereka ada juga yang berantakan, kotor, bau, dan seterusnya. In
short, kami harus membangunkan mahasantri sebanyak itu dengan berbagai karakter
mereka dalam waktu yang singkat karena setelah iqomah dikumandangkan kami para
musyrif pun harus bergegas menuju masjid juga. Ini pengalaman yang akan selalu dihadapi
seorang musyrif saat membangunkan mahasantri. Berat memang, tapi kami berusaha
melakukan yang terbaik dan memberikan dedikasi kami untuk ma’had dan membimbing
mahasantri untuk jadi orang yang lebih baik.
Setelah memastikan mereka berangkat
ke masjid menunaikan sholat subuh, kami para musyrif masih harus mengkondisikan
mereka untuk mengikuti kegiatan shobahul lughoh, yaitu belajar bahasa Arab dan
Inggris. Banyak dari mereka yang tidur, sembunyi, dan berbagai alasan lainnya
agar mereka tidak ikut shobahul lughoh. Sedangkan dari sisi musyrif, kami harus
menyiapkan bahan ajar untuk mahasantri dan harus berfikir cepat mengambil
solusi agar suasana kegiatan ini tidak membosankan serta memastikan semua
musyrif yang menjadi tutor hadir tepat waktu. Kebetulan, saya selalu menjadi koordinator
divisi bahasa yang bertanggung jawab untuk mengatur semua kegiatan dan
administrasi yang berhubungan dengan kegiatan kebahasaan, terutama shobahul
lughoh ini. Jadi harus memastikan presensi mahasantri sampai di musyrif
pengajar masing-masing sebanyak belasan, mengkondisikan mahasantri agar tidak
kabur atau bosan, menciptakan kegiatan kebahasaan yang mengasikkan, membuat
game bahasa agar mahasantri tidak bosan, melakukan penginputan presensi tepat waktu,
memberikan hukuman (iqob) bagi mahasantri yang tidak pernah hadir, menciptakan
budaya berbahasa Arab dan Inggris di lingkungan mabna, membimbing mahasantri
jika mengalami kesulitan belajar bahasa, dan masih banyak lagi. belum lagi
ditambah kegiatan sore seperti sholawat al Banjari, khitobah, qiro’ah al Quran,
tahsin al Quran, dan lain lain dimana sosok musyrif harus selalu ada untuk
mendampingi dan memastikan mahasantri hadir. Truly exhausting, but it remained
unforgettable. Saya bisa belajar banyak hal dari semua itu.
Selain itu, setiap musyrif akan
mendapat jatah untuk mendampingi mahasantri selama satu tahun di ma’had. Biasanya,
setiap musyrif mendapat satu sampai tiga kamar dampingan dimana setiap kamar berisi enam
mahasantri. Kami harus selalu memastikan mereka sholat, aktif mengikuti
kegiatan ma’had, tidak keluyuran malam, tidak berbuat hal yang membahayakan,
melakukan monitoring materi kegiatan di ma’had, mengingatkan jika ada yang
tidak beres, menjadi teman curhat ketika mereka punya masalah, mengkondisikan
mereka agar tidak bertengkar, dan pastinya memberi mereka motivasi
sebaik-baiknya. Intinya, kami bertindak sebagai ‘ayah’ mereka selama di mahad. Jadi
pastinya kami berusaha untuk selalu ada untuk mereka sehingga mereka bisa
belajar dengan tenang dan nyaman, bisa betah dan mengikuti kegiatan dengan baik
di ma'had, serta menjadi sosok yang jauh lebih baik setelah keluar dari ma’had
nantinya. Is it easy? Absolutely NO. Kami harus bisa mengatur waktu untuk bisa
menyapa dan membimbing mereka setiap hari di tengah kesibukan kami sebagai
mahasiswa yang juga memiliki banyak tugas kuliah dan aktivitas lain selain di
ma’had.
Bukan hanya membimbing adik-adik
mahasantri, namun para musyrif pun juga butuh bimbingan. Jadi, kami para
musyrif juga melakukan aktivitas yang hampir sama seperti mahasantri
diantaranya kami mengikuti kajian rutin kitab kuning bersama para ustad dan
kiai selama sekali seminggu, mengkhatamkan Al Quran dengan ngaji di
mushohih selama hari Senin-Jum’at, ikut pengajian serta sholawat al banjari
seminggu sekali, dan masih banyak lagi. nah, ma’had juga tidak hanya soal
ngaji, tapi juga terdapat banyak kegiatan tambahan lainnya seperti lomba manasik haji, banjari, kithobah atau da’i, debat bahasa Arab, debat bahasa Inggris, MSQ,
cerdas cermat, duta lingual, design karya kostum recycle, drama fiqyah, dan
masih banyak yang lainnya. Pastinya, beberapa diantara kami setiap mabna akan
dipilih menjadi panitia yang harus mempersiapkan segala hal dan melakukan rapat
berkali-kali hingga larut malam dan bahkan terkadang harus kerja lembur. Kalaupun
tidak menjadi panitia, kita harus membimbing dan melatih adik-adik mahasantri
yang akan bertanding mewakili mabna sebaik-baiknya untuk meraih juara. Inilah gambaran lain yang cukup menantang ketika memutuskan menjadi seorang supervisor ma'had.
Hal menarik lainnya adalah tentang
kebersamaan yang kami rasakan dengan mahasantri maupun sesama musyrif. Kami belajar
banyak tentang organisasi dan kepemimpinan yang akhirnya mengajarkan kami untuk
saling menghargai dan menerima perbedaan satu sama lain. mungkin ada beberapa
kawan musyrif yang tidak sepaham dan sependapat, atau mungkin mahasantri yang
nakalnya luar biasa dan akhirnya kami lah yang harus bertanggungjawab dan
berusaha membantu semaksimal mungkin. Sedihnya yaitu terkadang ketika kami
disalahkan dan diprotes mahasantri atas apa yang seharusnya bukan merupakan
tanggung jawab kami, harus mengalah dan sabar tapi tetap tegas dalam bertindak
maupun menyikapi mereka. Menjadi musyrif serasa kita memiliki keluarga di MSAA.
Selama tiga tahun mengabdikan diri untuk bisa membantu mencetak generasi yang
diinginkan kampus yaitu generasi Ulul Albab, dengan segala upaya yang kami
lakukan, dengan segala pro dan kontra yang harus kami hadapi, serta tuntutan
tanggung jawab sebagai mahasiswa sekaligus musyrif yang pasti terlihat sangat
berat. Namun, saya selalu bersyukur, selalu bersyukur, dan akan selalu
bersyukur pernah dipercaya menjadi musyrif dan bisa menimba ilmu maupun
pengalaman sebanyak-banyaknya serta bisa berbagi pengetahuan kepada orang lain.
Saya juga bersyukur bisa menimba ilmu kepada para ustaz dan kiai yang ada di
MSAA. Satu hal luar biasa yang belum pernah saya rasakan karena baru pertama
kali merasakan kehidupan sebagai santri pondok untuk mahasiswa. Bertanggungjawab
menjadi musyrif selalu memberikan pelajaran hidup luar biasa tentang arti dari
dedikasi, perjuangan, kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan kepemimpinan yang
pasti akan sangat bermanfaat untuk kehidupan di masa depan. Sekali lagi, saya
yakin, menjadi bagian dari keluarga MSAA akan sangat berdampak sangat positif
selama kita mampu menggali ilmu di tempat yang kami sebut sebagai rumah kedua
ini.
