Three magic things to pursue our goal: hard work, optimism, and thankfulness.
#THROWBACK #KilasBalik
It was so uplifting to know that I won the game! Mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) ke 15 pada tahun 2017 pada cabang lomba Debat Kandungan Quran dalam bahasa Inggris (DBI) lalu menjadi salah satu momen yang sangat mengesankan. Setelah beragam drama dan perjuangan keras, saya dan partner saya (Fajrin) akhirnya memperoleh 2 award sekaligus, menjadi juara 1 dan kami berdua dinobatkan sebagai Best Speaker, Alhamdulillah.
It was so uplifting to know that I won the game! Mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) ke 15 pada tahun 2017 pada cabang lomba Debat Kandungan Quran dalam bahasa Inggris (DBI) lalu menjadi salah satu momen yang sangat mengesankan. Setelah beragam drama dan perjuangan keras, saya dan partner saya (Fajrin) akhirnya memperoleh 2 award sekaligus, menjadi juara 1 dan kami berdua dinobatkan sebagai Best Speaker, Alhamdulillah.
Bagaimana langkah
perjalanan kami mengikuti kompetisi bergengsi nasional ini? Simak cerita sederhana
berikut ini yuk.
Awalnya, saya
maupun Fajrin tidak pernah tahu dan diberitahu apa itu MTQMN karena kampus kami,
UIN Malang maupun UIN lainnya se Indonesia tidak diperkenankan untuk mengikutinya.
Alasannya? Karena lomba nasional dua tahunan ini diselenggarakan oleh
Kemenristekdikti, sedangkan kampus agama Islam secara umum berada dalam naungan
Kemenag, sehingga tidak dilibatkan. Namun pada saat itu, UIN mendapat
kesempatan mengikuti kompetisi satu ini meskipun hanya dibatasi dengan tiga jenis
lomba, yaitu LKTI, design aplikasi, serta debat bahasa Inggris. Saya dan
Fajrin diberi kepercayaan untuk mewakili kampus kami di cabang lomba debat Inggris
tentang kandungan Quran ini.
Akhir Juni 2017
tepat ketika puasa, seperti mahasiswa pada umumnya, usai salat zuhur saya
menikmati tidur siang, dan sekitar pukul setengah dua siang, saya mendapat
telepon dari salah satu dosen saya, bu Indah. Beliau mencari saya untuk datang
ke perpustakaan karena sedang ada seleksi debat. Saya tak tahu menahu tentang
debat apa yang dimaksud bu Indah, namun saya langsung tertarik ikut hanya
sekedar memeriahkan seleksi. Dengan mata yang masih mengantuk, saya langsung
berangkat menemui beliau di ruang studi Islam dan Sains.
Ternyata, di ruang
tersebut sudah banyak peserta seleksi yang selesai tampil di hadapan dua juri,
salah satunya bu Indah. Hanya diberi waktu 7-9 menit saja, saya diminta memilih
satu dari 30 mosi debat dan dipersilakan membawakan argumen tentang mosi
tersebut lengkap dengan menggunakan dalil dari Al Quran. Kaget memang karena
belum pernah debat dengan ayat Quran, namun saya berusaha melakukan yang
terbaik.
Usai seleksi, keesokan
harinya saya ditelepon ustaz Imron melalui Whatsapp bahwa saya lolos seleksi
berpasangan dengan Fajrin. Saya senang namun bingung karena tidak tahu
bagaimana cara debat tentang kandungan Quran. Hari berikutnya, kami dipanggil
menuju ke ruang kemahasiswaan untuk melakukan registrasi dengan membawa foto diri
dan Kartu Mahasiswa (KTM). Kami melakukan registrasi.
Bisa menebak apa
yang terjadi?
Sangat sedih. Salah
satu staf kemahasiswaan berkata kepada kami: “Dony dan Fajrin pernah belajar
Quran atau mondok?” kami menjawab belum pernah. Lalu, beliau menjawab: “Lho..
harusnya yang dipilih yang sudah paham betul tentang Quran, nanti tinggal diasah
bahasa Inggrisnya. Bagaimana ini,” keluh beliau. Can you imagine how it
feels to be doubted by someone you respect in that offensive and straight-forward
way?
Awalnya sempat
mau gondok dan mundur, apalagi Fajrin. Dia benar-benar ingin mundur karena ia
merasa tidak punya pengalaman berdebat sama sekali, kemampuan Quran pun tak
seberapa, plus diragukan pula oleh kemahasiswaan. So, did we despair? Of course
not! Saya berusaha yakinkan Fajrin bahwa ini adalah challenge untuk
kami, jangan jadikan sebagai beban. Let’s prove them we can!
Dari rasa ‘kesal’
itulah, kami sangat semangat latihan dan berusaha improve kemampuan kami
untuk mempersiapkan semuanya dengan baik. Apa yang kami lakukan?
Pertama, kami bedah ke 30 mosi debat dengan 3
jenis heading tersebut. Kebetulan setelah itu kami semua pulang kampung
menikmati liburan hari raya. Namun tetap, di rumah pun kami belajar kupas mosi
dan mengasah wawasan Quran kami sebaik-baiknya, walaupun buntu dan sedikit
hasilnya. Dari semua mosi, kami membuat draft argumen semua mosi baik
dari sisi pro maupun kontra. Penasaran dengan daftar mosi debat MTQMN 2017?
Berikut daftarnya:
Kedua, kami datang ke pelatih official kami, ustaz
Yahya. Beliau adalah sosok intelek dengan wawasan tentang Quran yang sangat luas
dan mendalam. Bukan hanya Quran saja, beliau juga mahir di bidang hadis, qoul
ulama’, qoidah, dan sebagainya. Beliau pun mahir bahasa Inggris
karena beliau lulusan dari universitas di Sydney Australia. Sayangnya, sayangnya beliau sangat sibuk dakwah di
berbagai kota, sehingga sulit untuk menemui beliau. Apa yang kami lakukan? Kami
berusaha browsing dan baca referensi terkait semampu kami sambil menunggu
waktu luang ustaz Yahya.
Ketiga, kami juga mendatangi beberapa ustaz dan
ustazah yang juga ahli di bidang ini. Beruntung rasanya saya dan Fajrin yang menjadi
musyrif (supervisor) di ma’had atau pesantren kampus, jadi banyak
ustaz/ah yang kami kenal dengan baik. Alhamdulillah, sedikit banyak kami
banyak terbantu meskipun kami harus mondar-mandir kesana kemari di saat sedang
berpuasa. Apalagi saya harus perjalanan jauh dari Batu untuk menuju kampus
setiap harinya demi belajar bersama dan sebisa mungkin menemui siapa saja yang
ahli dan bisa dituju untuk kami persiapan.
Keempat, meskipun sangat melelahkan karena harus
mengupas satu per satu mosi tersebut dan tanpa bimbingan dan kontrol intensif
dari kampus pun, kami bersyukur bisa dikelilingi sosok-sosok yang sangat
membantu. Kami membuat kesepakatan bahwa setiap argumen dari setiap mosi harus diisi
dengan dalil (baik dari Quran, hadis, qoul ulama, dan seterusnya). Misalkan
mosi 1 memiliki 3 argumen pro, berarti kami wajib memiliki koleksi 3 dalil sekaligus.
Semudah itukah? Absolutely No. Sangat sulit menyambungkan isu terkait
dengan ayat Quran, kami harus pintar membuat konteks yang sesuai sehingga bisa
dihubungkan dengan dalil tertentu.
Kelima, kami memang tidak bisa praktik berdebat
langsung secara intensif selama persiapan, karena kami tidak punya lawan,
kebetulan semua mahasiswa masih menikmati liburan sedangkan kami sudah berkutat
dengan deadline dan PR tentang case plan. Untungnya, kami tinggal
di ma’had jadi banyak teman yang selalu bisa diajak ngobrol
ketika kami sudah stres.
Selanjutnya?
Simak cerita
selengkapnya tentang Perjalanan Memenangkan Debat Bahasa Inggris MTQMN 2017 di bagian kedua.


