Tuesday, 25 June 2019

Triumph! Perjalanan Memenangkan Debat Bahasa Inggris MTQMN 2017 (Part 1)




Three magic things to pursue our goal: hard work, optimism, and thankfulness.
#THROWBACK #KilasBalik

It was so uplifting to know that I won the game! Mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) ke 15 pada tahun 2017 pada cabang lomba Debat Kandungan Quran dalam bahasa Inggris (DBI) lalu menjadi salah satu momen yang sangat mengesankan. Setelah beragam drama dan perjuangan keras, saya dan partner saya (Fajrin) akhirnya memperoleh 2 award sekaligus, menjadi juara 1 dan kami berdua dinobatkan sebagai Best Speaker, Alhamdulillah.

Bagaimana langkah perjalanan kami mengikuti kompetisi bergengsi nasional ini? Simak cerita sederhana berikut ini yuk.

Awalnya, saya maupun Fajrin tidak pernah tahu dan diberitahu apa itu MTQMN karena kampus kami, UIN Malang maupun UIN lainnya se Indonesia tidak diperkenankan untuk mengikutinya. Alasannya? Karena lomba nasional dua tahunan ini diselenggarakan oleh Kemenristekdikti, sedangkan kampus agama Islam secara umum berada dalam naungan Kemenag, sehingga tidak dilibatkan. Namun pada saat itu, UIN mendapat kesempatan mengikuti kompetisi satu ini meskipun hanya dibatasi dengan tiga jenis lomba, yaitu LKTI, design aplikasi, serta debat bahasa Inggris. Saya dan Fajrin diberi kepercayaan untuk mewakili kampus kami di cabang lomba debat Inggris tentang kandungan Quran ini.

Akhir Juni 2017 tepat ketika puasa, seperti mahasiswa pada umumnya, usai salat zuhur saya menikmati tidur siang, dan sekitar pukul setengah dua siang, saya mendapat telepon dari salah satu dosen saya, bu Indah. Beliau mencari saya untuk datang ke perpustakaan karena sedang ada seleksi debat. Saya tak tahu menahu tentang debat apa yang dimaksud bu Indah, namun saya langsung tertarik ikut hanya sekedar memeriahkan seleksi. Dengan mata yang masih mengantuk, saya langsung berangkat menemui beliau di ruang studi Islam dan Sains. 

Ternyata, di ruang tersebut sudah banyak peserta seleksi yang selesai tampil di hadapan dua juri, salah satunya bu Indah. Hanya diberi waktu 7-9 menit saja, saya diminta memilih satu dari 30 mosi debat dan dipersilakan membawakan argumen tentang mosi tersebut lengkap dengan menggunakan dalil dari Al Quran. Kaget memang karena belum pernah debat dengan ayat Quran, namun saya berusaha melakukan yang terbaik.
Usai seleksi, keesokan harinya saya ditelepon ustaz Imron melalui Whatsapp bahwa saya lolos seleksi berpasangan dengan Fajrin. Saya senang namun bingung karena tidak tahu bagaimana cara debat tentang kandungan Quran. Hari berikutnya, kami dipanggil menuju ke ruang kemahasiswaan untuk melakukan registrasi dengan membawa foto diri dan Kartu Mahasiswa (KTM). Kami melakukan registrasi.

Bisa menebak apa yang terjadi?

Sangat sedih. Salah satu staf kemahasiswaan berkata kepada kami: “Dony dan Fajrin pernah belajar Quran atau mondok?” kami menjawab belum pernah. Lalu, beliau menjawab: “Lho.. harusnya yang dipilih yang sudah paham betul tentang Quran, nanti tinggal diasah bahasa Inggrisnya. Bagaimana ini,” keluh beliau. Can you imagine how it feels to be doubted by someone you respect in that offensive and straight-forward way?

Awalnya sempat mau gondok dan mundur, apalagi Fajrin. Dia benar-benar ingin mundur karena ia merasa tidak punya pengalaman berdebat sama sekali, kemampuan Quran pun tak seberapa, plus diragukan pula oleh kemahasiswaan. So, did we despair? Of course not! Saya berusaha yakinkan Fajrin bahwa ini adalah challenge untuk kami, jangan jadikan sebagai beban. Let’s prove them we can!


Dari rasa ‘kesal’ itulah, kami sangat semangat latihan dan berusaha improve kemampuan kami untuk mempersiapkan semuanya dengan baik. Apa yang kami lakukan?

Pertama, kami bedah ke 30 mosi debat dengan 3 jenis heading tersebut. Kebetulan setelah itu kami semua pulang kampung menikmati liburan hari raya. Namun tetap, di rumah pun kami belajar kupas mosi dan mengasah wawasan Quran kami sebaik-baiknya, walaupun buntu dan sedikit hasilnya. Dari semua mosi, kami membuat draft argumen semua mosi baik dari sisi pro maupun kontra. Penasaran dengan daftar mosi debat MTQMN 2017? Berikut daftarnya:

Kedua, kami datang ke pelatih official kami, ustaz Yahya. Beliau adalah sosok intelek dengan wawasan tentang Quran yang sangat luas dan mendalam. Bukan hanya Quran saja, beliau juga mahir di bidang hadis, qoul ulama’, qoidah, dan sebagainya. Beliau pun mahir bahasa Inggris karena beliau lulusan dari universitas di Sydney Australia. Sayangnya,  sayangnya beliau sangat sibuk dakwah di berbagai kota, sehingga sulit untuk menemui beliau. Apa yang kami lakukan? Kami berusaha browsing dan baca referensi terkait semampu kami sambil menunggu waktu luang ustaz Yahya.

Ketiga, kami juga mendatangi beberapa ustaz dan ustazah yang juga ahli di bidang ini. Beruntung rasanya saya dan Fajrin yang menjadi musyrif (supervisor) di ma’had atau pesantren kampus, jadi banyak ustaz/ah yang kami kenal dengan baik. Alhamdulillah, sedikit banyak kami banyak terbantu meskipun kami harus mondar-mandir kesana kemari di saat sedang berpuasa. Apalagi saya harus perjalanan jauh dari Batu untuk menuju kampus setiap harinya demi belajar bersama dan sebisa mungkin menemui siapa saja yang ahli dan bisa dituju untuk kami persiapan.

Keempat, meskipun sangat melelahkan karena harus mengupas satu per satu mosi tersebut dan tanpa bimbingan dan kontrol intensif dari kampus pun, kami bersyukur bisa dikelilingi sosok-sosok yang sangat membantu. Kami membuat kesepakatan bahwa setiap argumen dari setiap mosi harus diisi dengan dalil (baik dari Quran, hadis, qoul ulama, dan seterusnya). Misalkan mosi 1 memiliki 3 argumen pro, berarti kami wajib memiliki koleksi 3 dalil sekaligus. Semudah itukah? Absolutely No. Sangat sulit menyambungkan isu terkait dengan ayat Quran, kami harus pintar membuat konteks yang sesuai sehingga bisa dihubungkan dengan dalil tertentu.

Kelima, kami memang tidak bisa praktik berdebat langsung secara intensif selama persiapan, karena kami tidak punya lawan, kebetulan semua mahasiswa masih menikmati liburan sedangkan kami sudah berkutat dengan deadline dan PR tentang case plan. Untungnya, kami tinggal di ma’had jadi banyak teman yang selalu bisa diajak ngobrol ketika kami sudah stres.



Selanjutnya?
Simak cerita selengkapnya tentang Perjalanan Memenangkan Debat Bahasa Inggris MTQMN 2017 di bagian kedua.

Load comments