Finally, I did my final interview for LPDP batch II 2019! Tepat tanggal 5 Desember 2019 saya mendapat jadwal untuk verifikasi dokumen, sedangkan di tanggal 6 Desember menjadi hari untuk wawancara 1 dan 2.
Sedikit berbeda dengan tahun lalu, seleksi substansi LPDP tahun ini tidak lagi menggunakan LGD, namun diganti dengan wawancara 2 yang fokus pada materi kebangsaan. Dan sebagai informasi, tahun ini adalah pendaftaran kedua kalinya setelah saya gagal di tahap wawancara di seleksi batch 2 tahun 2018. Setelah melalui wawancara ini, yang saya rasakan hanya dua hal: puas dan bersyukur.
Ya, puas karena setiap doa berharap mendapat pewawancara yang tidak intimidatif dan fokus ke rencana studi sebagai bahan pertanyaannya (sesuai harapan), keluar ruangan wawancara dengan senyuman lega. Alhamdulillah, saya BERHASIL LOLOS setelah merasakan kegagalan di seleksi wawancara taun 2018. I am forever blessed!
![]() |
| Dokumen pribadi |
Namun meskipun begitu, dibalik kegagalan pasti ada hikmah yang mungkin bisa menginspirasi, dan pasti ada pelajaran yang bisa dipetik dan dibagikan untuk mereka yang akan berjuang menghadapi petualangan yang sama di LPDP bukan?
Nah, di tulisan kali ini saya akan memberikan informasi apa saja yang kurang lebih ditanyakan dan bagaimana cara menghadapi pertanyaan saat wawancara. Tak bermaksud menggurui atau sok tau atau pamer dan seterusnya, namun melalui tulisan ini saya berusaha berbagi pengalaman saja dan semoga bermanfaat, karena saya semangat LPDP pun juga dari baca-baca cerita inspiratif dan pengalaman awardee LPDP dari berbagai blog.
(Sebagai informasi, saat wawancara ini hampir 90% saya menjawab dengan bahasa Inggris sesuai permintaan pewawancara. Dalam blog ini saya tuliskan clue nya dalam Bahasa Indonesia)
Penasaran kan? Yuk simak berikut ulasan lengkapnya:
1. Perkenalan
Sesi ini adalah sesi yang akan memberikan first impression kita di hadapan interviewer. Hal yang bisa disampaikan di perkenalan ini termasuk nama lengkap, asal, asal kampus dan jurusan, pekerjaan saat ini, aktivitas sosial atau project yang dikerjakan, dan tujuan kampusnya.
Yang saya lakukan untuk sesi ini adalah dengan membuat draft catatan di kertas ukuran A4 kemudian saya tempel di dinding dekat pintu kamar untuk saya selalu dalami penyampaiannya. Bahkan sampai wawancara sudah usai pun, saya masih ingat kata-kata perkenalan yang saya sampaikan. Mau tahu bagaimana perkenalan saya? Yuk baca:
“My name is Dony Cahyono, I am from Kabupaten Tuban. I graduated from UIN Malang majoring English Linguistics. In my study, I was also active in some activities such as becoming volunteer musyrif of supervisor at ma’had for more than three years, joining debate club, journalistic club, and so on. And currently, I have been working professionally as content creator and marketing specialist at start up company, that is PT. Bimasakti Multi Sinergi. In this work, I also carry out application development with data analysis and UI/UX improvement.
After working, I continue my activity by voluntarily teaching at Panti Asuhan Auliyaa’ in which I also discovered that four of my students are having the indications of dyslexia. To teach them more effectively, I with my manager initiated Android App for mathematical learning that I have been using to teach them. I plan to enhance this app with the AI in Education instrument that is provided by UCL in the major of Education and Technology. Therefore, I apply this LPDP as my turning point to reach that goal”
Is it too long? Enggak juga hehe, tergantung bagaimana cara membawakan konten tersebut dan manner kita saat menyampaikan ke interviewer. Peserta yang lain ada yang lebih panjang dari itu, namun saya targetkan perkenalan wajib kurang dari 1,5 menit saja untuk menarik perhatian pewawancara. Buatlah pernyataan sederhana yang akan membuat interviewer penasaran. So, buat teman-teman yang akan wawancara juga, persiapkan perkenalan ini secara singkat dan jelas namun esensial.
2. Pengalaman Mengabdi, Organisasi, atau Aktivitas di Luar Negeri
Aspek satu ini juga penting untuk dipersiapkan dan digunakan sebagai senjata untuk memikat interviewer. Pendeknya, saya pernah menjadi sukarelawan Musyrif di mahad (pesantren kampus) selama lebih dari tiga tahun serta saat ini menciptakan study club dan mengajar di panti asuhan daerah kos. Mungkin bagi teman-teman yang kebetulan bisa menjelaskan dan diberi kesempatan menjelaskan, lebih baik elaborasi detailnya dan buatlah interviewer kagum dengan kegiatan pengabdian kita. If you have no idea what you have done at this point, boleh juga kok bicara tentang aktivitas apapun yang sifatnya komunal.
Saat itu saya juga ditanya tentang pengalaman berada di luar negeri, berapa lama di negara tersebut, negara mana lagi yang pernah dikunjungi, dan seterusnya.
Untuk organisasi, sebaiknya pahami betul organisasi apa yang kita ikuti, terutama saat ini. Kebetulan, saya cukup aktif di organisasi ketika kuliah. Namun ketika masuk dunia kerja, kita juga tetap harus meyakinkan bahwa kita aktif di organisasi lain selain hanya bekerja. Saat itu saya katakan bahwa selain bekerja, saya juga aktif di studi klub Auliyaa untuk anak-anak panti asuhan, asosiasi fintech Jawa Timur, Dyslexia Parent Support Group (DPSG) Jawa Timur, dll. Intinya, kita harus menunjukkan walaupun sibuk bekerja, kita juga masih aktif di kegiatan kemasyarakatan.
Saya jelaskan pula secara sangat singkat hubungan organisasi tersebut dengan kuliah yang akan diambil dan dengan pekerjaan saat ini. So, buat teman-teman, entah fresh graduate yang belum bekerja atau yang mungkin sudah bekerja, cobalah sibukkan diri di aktivitas sosial walaupun hanya hal kecil, karena aspek ini mungkin bisa menjadi nilai plus untuk penilaian aktivitas sosial; salah satu aspek yang dicari LPDP dari awardeenya dalam berkontribusi untuk masyarakat.
3. Pertanyaan Tentang Latar Belakang Pekerjaan
Ini juga menjadi pertanyaan yang sangat menarik. Bagi yang sudah bekerja, nikmatilah momen menjelaskan kegiatan di pekerjaan. Waktu itu saya ditanya apa saja detail pekerjaan sebagai content creator dan juga digital marketer, serta sisi menarik dari pekerjaan tersebut. Memang tidak ditanya sangat detail, namun saya sarankan teman-teman harus sudah mempersiapkan diri mulai dari keunggulan pekerjaan, kelemahan pekerjaan, tantangan tersulit saat bekerja, problem solving di pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja, masalah dengan rekan kerja, dan seterusnya.
Intinya satu, pick one example, sebaiknya tidak hanya berbicara secara normatif. Jika ditanya apa tantangan di kantor, jawab by case akan jauh lebih meyakinkan tapi tak perlu terlalu panjang jawabnya.
4. Pertanyaan Tentang Rencana Studi
Ini adalah momen yang sangat penting bagi saya untuk meyakinkan pewawancara. Obviously, kita berencana untuk studi jadi tentu saja yang diperdalam adalah studi kita. Kebetulan kelompok 5 Surabaya mendapat interviewer yang lebih fokus pada studi nanti seberapa penting, seberapa paham teori, seberapa bermanfaat untuk Indonesia, apa yang membuatnya berbeda, dan seterusnya.
Di pertanyaan ini, saya ditanya tentang SKSnya, mata kuliahnya, profesornya, karya profesornya, recognitionnya (Saya jawabnya salah di sini, hehe), dan masih banyak lagi. Saya sempat gagap ketika ditanya tentang korelasi pekerjaan dengan kurikulum di UCL, ini pertanyaan di luar persiapan dan sangat tidak terduga. Kemudian ditanya rangking UCL versi QS world ranking, saya jawabnya "Kalau tidak salah rangking 9 atau 10 versi QS bu," kemudian diminta memilih salah satu and I said 9 but afterward, I rechecked it and the correct one should be 8 (for 2020) lol.
Tentang rencana studi ini, kebetulan di jurusan Education & Technology UCL, mahasiswanya tidak wajib menulis disertasi/tesis, namun bisa juga membuat report dari prototype yang dibuat. Nah, saya menjelaskan akan memilih prototype ini dan beruntungnya diberi kesempatan untuk menunjukkan research plan versi infografis yang saya desain sendiri. Di research plan inilah, pewawancara terlihat tertarik karena app ini dapat digunakan oleh guru maupun siswa dengan fitur spesial yang bisa digunakan untuk anak-anak disleksia maupun anak difabel saat melaksanakan ujian berbasis komputer.
Satu momen yang sangat teringat dan membuat sedih, dua wawancara sepakat mengatakan bahwa saya bisa menyelesaikan proyek tersebut TANPA kuliah S2 bahkan hingga ke luar negeri. Pun saya jawab bahwa ada 3 aspek yang harus dipenuhi untuk mewujudkan hal ini: praktek pengajaran terhadap siswa disleksia untuk tahu kondisi lapangan (Done), menggandeng psikiater untuk asesmen berjenjang anak disleksia (Done melalui dokter Santi), serta instrumen pendidikan berbasis teknologi (Inilah yang dibutuhkan sehingga perlu kuliah lagi). Namun mereka sepakat menyangkal bahwa saya hanya berniat mencari pengakuan terhadap platform ini dari UCL saja, dan disarankan untuk cari sponsor saja untuk pembiayaan atau, ada juga yang menyarankan untuk diajukan ke rispro LPDP saja tanpa perlu kuliah S2. Rasanya pasti sedih, tapi insha Allah ini adalah cara interviewer menguji emosi kita hehe, jadi harus tetep kalem dan senyum saja.
Jujur saya hampir speechless ketika dipojokkan seperti itu dan saya sangat deg-degan serta hanya bisa senyum menjaga emosi agar tetap stabil. Belum sanggup menanggapi, pewawancara ketiga kemudian menambahkan bahwa rencana saya sudah mateng dan tak perlu dibawa ke UCL, beliau mengatakan (yang intinya):
“Nanti kalau mau kuliah ya kuliah aja ya, nggak usah bawa proyek yang ini. Takutnya diklaim produk mereka, ini harus jadi milik Indonesia. Jadi kamu belajar ya belajar saja di sana. Kalau boleh saya sarankan, nanti risetnya pakai topik yang lain saja, yang proyek ini jangan sampe diintervensi mereka ya,"
Saya pun hanya bisa mengiyakan dengan rendah hati dan menampakkan wajah penuh excitement. Beliau (pewawancara 3) juga bilang, “Yang seperti ini jangan sampai lepas dari LPDP,”
How it feels? Sungguh merasa diberi angin sejuk setelah minder speechless dengan statement dua pewawancara bahwa saya sebaiknya tak perlu S2. Ini bukanlah sebuah kode yang akan memastikan saya lolos, memang, namun setidaknya kalimat tersebut benar-benar membuat saya senang dalam hati. Once upon a time, ada beberapa peserta wawancara yang bahkan dipuji-puji, diberi selamat ketika selesai wawancara, dan hal menakjubkan lainnya ternyata belum rezekinya. Ada juga kawan saya yang merasa sangat kurang ketika wawancara namun lolos. Wallahu a'lam, do'a adalah koentji.
5. Pertanyaan tentang kampus
Seperti yang sudah sedikit disebutkan di poin 4, pertanyaan tentang kampus ini diantaranya meliputi penghargaan/akreditasinya, mata kuliahnya, fasilitasnya, sisi unik kampusnya, track recordnya, jumlah prestasinya, dan seterusnya. Pahami betul aspek-aspek ini yang banyak tidak diperhatikan. Di tahun pertama yang gagal, dulu saya juga ditanya: “Kenapa harus kampus X?” saya tahun lalu menjawab dengan rangking QSWU. Sedangkan tahun ini saya menjawab lebih spesifik dan tak mau bahas QSWU takutnya terlalu umum, karena semua kandidat pasti membawa alasan itu. So, jangan lupa untuk cari tau juga rangking kampus dan seberapa “hits” kampus yang akan kita tuju.
(To be continued)
Mau baca poin penting selanjutnya, baca di sini >>> Prepare Yourself! Inilah Momen Penting Seleksi Wawancara Beasiswa LPDP 2019 (Part 2)
