Tulisan ini adalah lanjutan cerita yang sebelumnya sudah termuat di PART 1. Di part kedua ini, saya akan melanjutkan cerita pengalaman menghadapi wawancara seleksi LPDP batch 2 2019. Selamat membaca :)
![]() |
| Sumber: ehef.id |
6. Pertanyaan tentang Mata Kuliah dan SKSnya
Selain aspek latar belakang kampus, kita juga wajib paham betul tentang jurusan tempat kita akan belajar, mulai dari mata kuliahnya hingga detail SKSnya. Untuk studi luar negeri, terdapat banyak jenis mata kuliah dan belum tentu saja antara universitas satu dengan yang lainnya. Belum lagi, kita harus paham sepaham-pahamnya jenis mata kuliah, apa yang akan diajarkan di mata kuliah tersebut, tugasnya bagaimana, siapa profesor atau dosennya, bagaimana karya penelitian jurusan tersebut, siapa tokoh penting di jurusan tersebut, mengapa ambil mata kuliah tertentu, apa hubungannya mata kuliah tersebut dengan kontribusi ke Indonesia, dan masih banyak lagi.
No need to panic! Memang sangat banyak dan detail, walau belum tentu kita akan ditanyai dengan semua detail tersebut. Tapi sekali lagi, nothing to lose right? Jadi siapkan segala senjata jawaban sebaik-baiknya. Apalagi waktu persiapan wawancara cukup lama setelah pengumuman seleksi SBK. sedikit curhat, saat seleksi ini saya sudah bekerja dan banyak kerjaan di kantor yang harus diselesaikan, tapi masih sempat-sempatin belajar ketika jam istirahat. Pulang kerja masih harus mengajar di Panti Asuhan sampai pukul 20.30, dan setelah itu barulah bisa latihan, itupun bicara sendiri di depan cermin. So, sesibuk dan sesulit apapun, spare your best time to prepare for this interview session. Berat memang, namun kita harus bisa manajemen kerjaan, waktu, tenaga, dan pikiran. Inilah salah satu hikmah ikut LPDP hehe
Saat persiapan wawancara ini pula, karena saya tergabung di beberapa grup yang ada di Telegram dan Whatsapp, saya pun sempat berteman dan berkirim pesan secara kebetulan dengan beberapa orang dan melakukan simulasi bareng. Simulasi ini saya lakukan ketika jam istirahat kantor melalui voice call, chat, hingga voice note secara bergantian. Dan tentunya kita harus saling memberi constructive feedback.
7. Pertanyaan tentang alasan kenapa harus S2
Ini adalah pertanyaan yang WAJIB banget diperhatikan. Bahkan harus tahu sebelum memutuskan untuk mendaftar LPDP maupun semua beasiswa yang ada. Jangan sampai mendaftar LPDP untuk S2/S3 hanyalah intuisi semata atau bahkan karena trend atau untuk gengsi. Jujur, ini pertanyaan berat, karena saya harus menemukan jawaban urgen dan sangat efektif kenapa saya harus S2. Jika kita hanya beralasan karena ingin belajar, karena ingin bisa bermanfaat dengan ilmu lebih tinggi, karena ilmu S1 masih kurang, dst, menurut saya jawaban tersebut terlalu semu nan normatif. Lebih baik kalau menyiapkan jawaban spesifik dengan bukti yang ada.
Tahun lalu ketika gagal, saya ditanya ini dan saya jawab ingin menjadi dosen, kemudian pewawancara bertanya lagi, “memangnya sudah ada jaminan bisa jadi dosen?” kemudian saya jawab, “Sudah bu, ketika yudisium saya sempat dinasehati oleh dekan untuk kembali menjadi dosen di fakultas saya bu,” dan bagaimana respon pewawancara? Dengan tegas beliau mengatakan, “Mas, kalau hanya omongan saja semua orang juga bisa lho, jangan-jangan nanti kamu di php gimana? Kecuali ada hitam di atas putih baru deh meyakinkan,”
TIPS: Bagi siapapun yang memang ingin menjawab menjadi dosen, pastikan sudah mendapat tawaran dan surat rekomendasi. Cobalah hubungi dosen yang menawarkan tersebut kemudian mintalah surat rekomendasi yang menyatakan bahwa kita memang direkomendasikan untuk menjadi dosen. Dengan surat rekomendasi inilah yang membuat pewawancara akan yakin bahwa kita tidak berkampanye semata dengan mengatakan ingin ini ingin itu.
Bagaimana dengan tahun ini? Saya menggunakan strategi yang lebih spesifik dan doable dibanding tahun lalu yang sempat speechless ketika dibilang tidak ada hitam di atas putih untuk menjadi dosen. Bukan berarti perbedaan jawaban tahun ini dan tahun lalu menandakan inkonsistensi, namun pengalaman dan momen baru yang saya kerjakan dan hadapi lah yang akhirnya menginspirasi saya. Awalnya menggebu alasan S2 adalah untuk menjadi dosen karena sudah mendapat privilege dari fakultas. Namun setelah saya merasakan mengajar anak-anak di panti asuhan dan juga menjadi pendidik bak orang tua pelengkap bagi mereka, ada tantangan dan kepuasan tersendiri yang akhirnya membuat saya jatuh cinta mengajar anak-anak terutama yang tidak punya akses pendidikan. Mengajar anak-anak kecil ini terasa seperti kita investasi jangka panjang bagaimana kita akan membentuk karakter anak ini sebagai bekal mereka ketika dewasa nanti. Begitulah alasannya hehe
Back to the topic, di seleksi tahun ini saya menjelaskan tentang aplikasi yang diinisiasi oleh tim kami di kantor serta aplikasi Android karya iseng bersama manajer yang telah saya gunakan untuk mengajar anak-anak disleksia di panti asuhan. Jadi saya elaborasi bagaimana aplikasi ini dikembangkan, digunakan, bahkan diajarkan ke anak-anak didik. Ditambah pula dengan organisasi terkait yang saya ikuti yang memantapkan saya memberikan jawaban yang lebih meyakinkan bahwa saya mendaftar S2 with a purpose, bukan hanya sekedar “ingin”.
So, buat teman-teman yang ingin mendaftar S2 dengan beasiswa LPDP maupun beasiswa apapun, ini pertanyaan yang wajib terjawab secara SMART (Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Timeline) jauuuh sebelum mendaftar beasiswa maupun cari LoA.
8. Pertanyaan tentang Pengajar/profesor di Jurusan yang Dituju
Ini sisi lain yang memang bukan prioritas namun harus tetap dipersiapkan. Kenali siapa dosen, profesor, dekan, peneliti, dll yang ada di jurusan/fakultas yang kita tuju. Cari tahu juga penelitian & prestasi apa saja serta publikasi jurnal apa saja yang sudah berhasil diterbitkan. Tak perlu harus menghafal semua nama profesor beserta prestasinya, cukup pilih beberapa yang sesuai dengan bidang yang akan ditekuni di studi kita nanti. Jangan lupa juga untuk melakukan korespondensi dengan profesor tersebut tentang rencana studi kita untuk meyakinkan bahwa kita sudah melakukan banyak persiapan. Bila perlu, cetak/print riwayat email tersebut sebagai bukti untuk meyakinkan pewawancara.
Yang saya lakukan cukup sederhana, saya cari profesor/dosen yang berhubungan dengan rencana project saya, akhirnya terpilihlah 3 orang profesor kemudian saya kirim surel ke beliau bertiga. Karena nama bule susah diingat, saya merangkum ketiga profil profesor tersebut beserta karya dan penelitiannya, kemudian saya cetak di kertas berukuran kecil dan saya selipkan di softcase sisi belakang hape. So, saya lebih mudah menghafal nama dan prestasi para profesor tersebut. Berikut contohnya:
![]() |
| Dokumen pribadi |
Dan Alhamdulillah, hal ini juga menjadi poin plus untuk saya karena saat wawancara sempat ditanya siapa saja profesor yang kira-kira bisa membimbing untuk tema penelitian saya, dan ditanya juga “sudah menghubungi profesor tersebut?” kemudian dengan mantap saja jawab “Sudah, pak.”
This is, I think, worth to try
9. Pertanyaan tentang Alasan Gagal di Seleksi Sebelumnya
Bagi teman-teman yang sama seperti saya, yaitu yang sudah pernah gagal di wawancara LPDP sebelumnya, kemungkinan besar akan ditanya dengan pertanyaan jenis ini. Persiapkan jawaban sebaik-baiknya dengan analisis alasan kita gagal di seleksi sebelumnya. Pastikan jawaban dari alasan kegagalan disampaikan secara clear dan bukan jawaban normatif.
Waktu itu, yang saya sampaikan ada 3 alasan kenapa saya gagal: 1) Persiapan saya tidak matang sehingga ada beberapa pertanyaan yang membuat saya kelabakan bahkan sampai nangis karena membahas tentang orang tua, 2) Yaitu karena saya baru masuk kerja dan masih probation 1 bulan, jadi masih setengah hati ketika harus mempersiapkan untuk wawancara dengan pekerjaan di kantor, 3) Target saya sebenarnya 1 tahun kerja dulu setelah lulus S1 baru daftar LPDP, bukan setelah lulus langsung daftar (itu doa saya sejak semester 1) serta orang tua belum 100% rela karena masih mau melihat saya bekerja sungguh-sungguh.
Dengan alasan tersebut pun saya masih digali tentang bagaimana dampak dari disagreement orangtua pada performance wawancara saya. Alhamdulillah saya masih rileks dan bisa kontrol emosi.
10. Pertanyaan tentang Rencana Setelah Studi
Last but not least, persiapkan sebaik-baiknya langkah demi langkah riil apa saja yang akan dilakukan setelah studi. Apapun itu, harus clear. Saran saya, gunakan analisis SMART (Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Timeline) dan hindari berkampanye “Saya akan bla bla bla..” tanpa ada korelasi dengan latar belakang studi, sosial, prestasi, maupun aktivitas sebelumnya. So, make it CRYSTAL CLEAR.
(Untuk yang satu ini maaaf saya tidak bisa berbagi apa yang saya katakan saat ditaya pertanyaan ini, karena ini komitmen pribadi yang juga janji saya pada negeri ini)
Nah, itu tadi beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dari pengalaman saya saat menghadapi wawancara alias seleksi substansi LPDP. Beda orang beda pengalaman, namun insha Allah sedikit informasi tadi bisa memberi gambaran bagaimana menghadapi tes yang sangat menantang ini. Semoga bermanfaat, dan yang mau tanya bisa di kolom komentar maupun japri Instagram @donysaurus
Terima kasih

